358 Pemilik Museum Temu Nasional di Bali

DENPASAR, NusaBali. AMI di bawah sang Ketua Umum Putu Supadma Rudana bikin ‘Temu Nasional Pengelola Museum’ di Sanur, Denpasar Selatan, 30 Mei-2 Juni 2016 nanti. Agenda akbar ini bakal melibatkan 358 pemilik dan pengelola museum se-Indonesia

Terkait rencana ini, panitia ‘Temu Nasional Pengelola Museum’ secara khusus bertemu Gubernur Bali Made Mangku Pastika di Kantor Gubernuran, Niti Mandala Denpasar, Jumat (15/4) siang. Ketua Umum AMI, Putu Supadma Rudana, juga ikut hadir dalam pertemuan dengan Gubernur Pastika kemarin.

Supadma Rudana yang notabene pemilik Museum Rudana di Ubud, Gianyar didampingi Direktur Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Hary Widiyanto, serta Ketua Himpunan Museum Bali (Himusba) AA Gede Rai, dab Wakil Ketua Himusba Tjokorda Astika.

Menurut Supadma Rudana, pertemuan dengan Gubernur Pastika kemarin adalah audiensi terkait agenda besar ‘Temu Nasional Pengelola Museum’ yang bakal digelar AMI di Sanur, akhir bulan nanti. Dari audiensi tersebut, Gubernur Pastika memastikan bakal membuka remi ‘Temu Nasional Pengelola Museum’.

“Para pemilik museum se-Nusantara, dari Sabang sampai Merauke, yang jumlahnya mencapai 358 orang, nantinya akan hadir di Sanur untuk pertemuan tingkat nasional nanti. Pak Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Anies Baswedan, Red) juga bakal hadir. Sedangkan Pak Gubernur Pastika kita beri kehormatan untuk membuka kegiatan,” ujar Supadma Rudana dalam rilisnya seusai bertemu Gubernur, Kamis kemarin.

Kegiatan ‘Temu Nasional Pengelola Museum’ yang melibatkan para pemilik museum seIndonesia di Sanur nanti, kata Supadma Rudana, merupakan agenda membangun permuseuman ke depan. Dari pertemuan itu juga akan dirumuskan apa tantangan permuseuman secara nasional. “Kita ingin beragam museum yang ada sekarang, bersinergi dengan asosiasi dan berperan strategis menyuarakan masalah ini,” ujar politisi muda asal Desa Peliatan, Kecamatan Ubud, Gianyar yang juga Wakil Sekjen DPP Demokrat ini.

IMG-20160421-WA0011

Supadma menyebutkan, mulai level pusat hingga daerah kini sedang mengawal gerakan ‘Museum sebagai Rumah Tertinggi Kebudayaan’. “Karena, museum merupakan rumah tertinggi kebudayaan, rumah abadi peradaban, rumah sumber inspirasi,” ujar putra dari mantan anggota DPD RI 2004-2009 Dapil Bali, Nyoman Rudana ini.

Nah, dalam temu nasional para pemilik museum nanti, kata Supadma, juga akan dicari rumusan yang komprehensif tentang pengelolaan museum. Muaranya, supaya museum benar-benar menjadi jiwa bangsa Indonesia. “Museum yang jadi rumah kebudayaan, kita bidik bisa bermanfaat misalnya untuk kekuatan diplomasi internasional,” tegas Supadma Rudana.

Asosiasi Museum Indonesia (AMI), kata Supadma, memberikan tugas kepada para pengelola museum untuk menyuarakan aspirasi dan bersama-sama pemerintah dalam memajukan perkembangan museum. “Kita apresiasi kepada Gubernur Pastika. Tadi (kemarin) beliau menyampaikan dukungan maksimal,” katanya.

Sedangkan Ketua Himusba, AA Gede Rai, berharap perhelatan temu nasional para pemilik museum di Sanur nanti mendapatkan dukungan semua komponen, mulai dari pemerintah hingga rakyat Bali. “Bali menjadi tuan rumah, ini kesempatan luar biasa. Bali menjadi inspirator tentang permuseuman,” ujar Gung Rai.

Disebutkan, acara ‘Temu Nasional Pengelola Museum’ juga akan diselingi dengan acara sarasehan tentang museum dan kebudayaan, serta gala dinner dengan Gubernur Pastika dan Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi di Gedung Jaya Sabha Denpasar. Selain itu, para peserta ‘Temu Nasional Pengelola Museum’ juga akan melakukan kunjungan ke berbagai museum di Bali.

Sementara itu, Gubernur Pastika menyambut positif agenda ‘Temu Nasional Pengelola Museum’ di Bali. Menurut Pastika, museum adalah cerminan bagaimana melihat masa lampau dan memikirkan masa depan. “Bali bisa menjadi the living museum (museum hidup),” ujar Gubernur Pastika yang kemarin didampingi Karo Humas Setda Provinsi Bali, Dewa Gede Mahendra Putra. 7 nat

 

Sumber : NUSA BALI, 16 April 2016

Leave a Reply

Your email address will not be published.