Resume Bedah Buku ‘Menuju Visi Sempurna, Seni Budaya sebagai Jiwa Bangsa’

image004

Serangkaian dengan acara Renungan Kemerdekaan sekaligus sebagai pemaknaan sekaligus refleksi atas perayaan HUT ke-65 Republik Indonesia, pada 18 Agustus 2010 Pusat Penelitian, Pengkajian dan Dokumentasi Budaya ‘DESTAR’ menyelenggarakan sebuah dialog budaya dengan acuan bahasan buku ‘Menuju Visi Sempurna, Seni Budaya Sebagai Jiwa Bangsa’. Diskusi yang digelar di Museum Sejarah Nasional, Monumen Nasional, ini dihadiri oleh para budayawan, pelaku serta pengamat seni Indonesia ini diadakan di Ruang Museum Sejarah Nasional Monas, dengan menghadirkan tiga pembicara yakni Dwi Sutarjantono (Majalah Esquire), Doddi A. Fauzi (Majalah Arti) serta editor buku ini, Ni Made Purnamasari.

Dalam dialog yang berlangsung selama hampir satu setengah jam ini dan dipandu penyair Warih Wisatsana, ketiga pembicara mencoba untuk mengulas berbagai hal yang terangkum dalam buku setebal 313 halaman ini, yang berisi wawancara-wawancara Putu Rudana dengan berbagai media lokal maupun nasional, serta esai-esai terpilih Putu Rudana, termasuk yang termuat dalam buku Energi Positif, perihal pandangan 100 terhadap kepemimpinan SBY, yang dieditori oleh DR. Dino Patti Djalal.

image003Pada paparan awalnya, Ni Made Purnamasari menyatakan bahwa buku ini merupakan rangkuman dari gagasan ataupun pemikiran Putu Supadma Rudana yang tertuang di berbagai media sedari tahun 2007 hingga 2009, diterbitkan sebagai penghargaan kepada media massa yang selama ini turut memberitakan dan mengumandangkan upaya-upaya menjadikan seni budaya sebagai jiwa bangsa. “Buku ini pada mulanya merupakan suatu upaya pendokumentasian awal berbagai liputan ataupun pemberitaan terkait butir-butir pemikiran, gagasan ataupun juga kepedulian Putu Rudana terkait kehidupan bermasyarakat dan bernegara, beserta berbagai latar sosial budaya seiring peristiwa-peristiwa yang menyertainya,” ujar Purnama.

Buku yang diterbitkan oleh Yayasan Seni Rudana ini dapat dikatakan mencerminkan pandangan ataupun gagasan dari Putu Rudana terkait soal-soal sosial, politik, dan budaya berskala nasional maupun internasional. Bila disimak lebih dalam, mengemuka pula semangat cinta tanah air dan upaya-upaya yang dilakukan Putu Rudana selama ini, terutama menyangkut sinergi seni dengan berbagai bidang demi membangun karakter dan pekerti bangsa (nation and character building). Informasi lebih lanjut terkait buku ini dapat diakses di www.putusupadmarudana.com.

Dalam bahasan lebih jauh, ketiga narasumber mengungkapkan bahwa Putu Rudana juga telah menggelar berbagai kegiatan seni-budaya, semisal pameran serta pertunjukan seni, yang tidak hanya mengetengahkan berbagai karya yang indah secara estetika, namun juga sarat dengan nilai serta makna-makna sosial dan kultural. Salah satunya adalah Pameran Seni Lukisan dan Tari Joged (2008), yang mengangkat tari pergaulan tradisional Bali (joged) yang kian lama dipandang sebagai pertunjukan yang menyimpang dari norma kesusilaan, bukan sebagai karya seni yang sarat dengan keindahan gerak serta pemaknaan sosial yang menyertainya. Selain itu, sebagai wujud kepeduliannya terhadap pentingnya wadah apresiasi dan aspirasi generasi muda terhadap kebudayaan dan masa depan bangsa, Putu Rudana juga menyelenggarakan sebuah Kompetisi Esai Populer dengan tema ‘Harapan Masyarakat Terhadap Pemimpin Masa Depan Bangsa’.

Sementara itu, Doddi A. Fauzi dari Majalah Arti yang rangkuman wawancaranya juga tertuang dalam buku ini mencoba mengaitkan antara esensi kemerdekaan serta kebudayaan bangsa dalam pemaknaan nasionalisme era kini. Di samping menjelaskan sejarah lahirnya semangat nasionalisme di berbagai negara, Doddi juga menekankan pentingnya figure-figur yang visioner yang tidak hanya mampu memberikan jawaban akan persoalan-persoalan kekinian, namun juga memiliki pandangan-pandangan yang bermanfaat bagi upaya meraih masa depan bangsa yang lebih baik. “Nah, dalam wawancara dengan Putu Rudana, saya memperoleh banyak pikiran-pikiran yang cerdas dan visioner, termasuk misalnya tawaran ekonomi kreatif yang harus dikembangkan kemudian hari oleh bangsa ini. Padahal, pada waktu wawancara itu, soal ekonomi kreatif belumlah menjadi wacana di masyarakat dan belum menjadi kebijakan dari pemerintah,” kata Doddi yang dikenal juga sebagai penulis seni rupa ini.

Pada bagian lain, menjawab pertanyaan, Doddi menyatakan, Putu Rudana berupaya membangun pandangan yang berbeda akan sebuah karya seni. “Saya masih ingat, Putu Rudana pernah menyatakan bahwa ketika menilai sebuah suatu karya seni, yang kita lihat mula pertama bukanlah tampilan fisik ataupun nilai ekonominya, melainkan nilai-nilaiintangible (tak tampak) yang terkandung dalam karya tersebut. Nilai yang tak kasat mata ini, kata Putu, mencerminkan juga jiwa pelukisnya, curahan hati dan emosinya yang mendalam. Hal inilah yang harus kita pahami dan dalami, berkesesuaian dengan pengetahuan kita atas perkembangan pasar seni rupa, sehingga mampu memberikan manfaat ekonomi yang sebanding.”

Di sisi lain, Dwi Sutarjantono, yang telah beberapa kali berkesempatan melakukan wawancara dengan Putu Rudana mengatakan, pertemuannya dengan sosok Putu Rudana selalu dipenuhi dengan diskusi-diskusi panjang yang hangat dan menarik. Ia menyatakan bahwa Putu selalu tampil dengan gagasan-gagasan orisinal. “Saya kira Putu adalah seorang yang terus menerus memikirkan perihal kebudayaan dan kesenian, serta mencoba mengumandangkannya ke publik luas. Pikiran-pikirannya sering kali tak terduga, tidak hanya melihat dari sisi yang kasat mata, tapi juga menyangkut pertimbangan-pertimbangan yang bersifat non verbal. Dengan demikian, apa yang dikemukakan menjadi sesuatu yang segar dan menarik untuk diungkap di media serta member inspirasi bagi pembaca,” ujar Dwi yang adalah chief editor Majalah Esquire.

Dwi yang kerap menulis laporan perjalanan ke luar negeri ini secara terbuka menilai bahwa kecintaan Putu yang sedemikian besar terhadap seni budaya tentulah tak lepas dari latar belakang keluarganya yang juga memiliki galeri dan museum seni rupa di Ubud, Bali. Sedari kecil Putu Rudana telah terbiasa bersentuhan dengan keindahan dan bergaul dengan seniman-seniman besar serta budayawan-budayawan nasional mupun internasional.

“Yang menarik dari gagasan-gagasan Putu Rudana adalah tentang sinergi seni yang ia lakukan dengan bidang-bidang keseharian kita. Ini bukan hanya untuk mengembangkan seni dan budaya dalam berbagai kemungkinan kreatifnya, tapi juga untuk lebih—menyebut istilah Putu—menyebarkan spirit seni-budaya ke seluruh aspek kehidupan, sehingga tercapai tatanan masyarakat yang santun, beretika dan berlandaskan pada semangat saling pengertian,” papar Dwi Sutarjantono menanggapi peserta yang mempertanyakan apa yang menjadi perhatian utama Putu Rudana.

Dalam sesi tanya jawab dengan hadirin, terlontar beberapa pertanyaan, baik terkait isi buku maupun juga visi serta pandangan Putu Rudana terhadap seni budaya Nusantara. Theresia Pardede, anggota Komisi X DPR RI, misalnya, menanyakan bagaimana upaya yang dapat dilakukan untuk menumbuhkan kecintaan terhadap kebudayaan bangsa. Di samping itu, peserta lain juga menanyakan lebih jauh terkait pendapat Putu Rudana terhadap kebudayaan dan sejarah kebangsaan masa lalu serta refleksi budaya di masa mendatang.

image004Turut memberikan pendapatnya, Kepala Unit Pengelola Monumen Nasional, IM Rini Hariyati, mengutarakan, museum memiliki peran yang sangat signifikan dalam proses edukasi masyarakat. Karenanya, ia berharap, dengan adanya Tahun Kunjungan Museum ini, publikasi terhadap permuseuman dapat lebih gencar dilakukan untuk mendorong khalayak Indonesia datang dan berbagi wawasan serta pengetahuan di museum.

Dwi Sutarjantono memperoleh giliran pertama dalam menjawab pertanyaan. Ia menanggapi tentang publikasi permuseuman dan juga seni budaya secara keseluruhan.Dwi mengakui, memang tidak semua media menyediakan ruang yang optimal bagi tulisan ataupun artikel kebudayaan dan kesenian. Hal ini tentulah karena kebijakan beberapa media yang disesuaikan dengan pangsa pasarnya masing-masing. Kendati demikian, Dwi menegaskan bahwa seyogyanya tiap-tiap media di nusantara memberikan ruang bagi artikel-artikel, kolom esai ataupun juga pemuatan karya-karya seni, minimal halaman cerpen atau kisah bersambung. Dengan demikian, sinergi antara seni budaya dan media dapat dilakukan secara lebih menyeluruh lagi.

Mengutip pikiran Putu Rudana yang tertuang di buku, Doddi A. Fuzi menggarisbawahi pentingnya makna kebhinekaan dalam kemerdekaan Indonesia. Keberagaman suku, ras, agama dan juga kebudayaan Indonesia merupakan suatu kekayaan yang tidak ternilai. Kebhinekaan ini pada hakikatnya tercermin dalam koleksi-koleksi yang ada di museum-museum. Warisan seni dan budaya para leluhur itu, sebagaimana kerap ditegaskan oleh Putu Rudana, terbukti tidak hanya sebagai dokumentasi perjalanan sejarah sosial, politik dan juga kultural bangsa ini, namun juga memberikan edukasi bagi masyarakat. “Itulah, kenapa saya hormat dan salut kepada Putu Rudana, yang bersedia mencurahkan waktunya sebagai managing director Museum Rudana. Nah, Putu, dalam wawancara-wawancaranya selalu menekankan pentingnya upaya pembenahan yang lebih menyeluruh untuk menjadikan museum layak untuk dikunjungi.”

Menanggapi pernyataan Doddi, Purnama mengungkapkan bahwa selama ini melalui Museum Rudana, Yayasan Seni Rudana dan juga Pusat Penelitian, Pengkajian dan Dokumentasi Budaya ‘DESTAR’, Putu Rudana telah menggagas serta menyelenggarakan berbagai kegiatan seni budaya yang selalu disertai dengan konsep yang tidak hanya menghargai keadiluhungan tradisi masa silam atau menggagas kemungkinan di masa mendatang, namun juga merenungi kekinian kita.

Di sisi lain, Purnamasari menjelaskan bahwa gagasan Tahun Kunjungan Museum muncul dari pemikiran Putu Rudana yang kemudian diimplementasikan menjadi kebijakan Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia. “Menteri Jero Wacik sendiri menyatakan hal ini dalam salah satu pidatonya di Bali,” tambah Purnamasari.

Di akhir dialog, menanggapi pertanyaan dan pernyataan narasumber ataupun peserta, Putu Rudana menyatakan bahwa apa yang terangkum dalam buku ini pada dasarnya semua hal tersebut saling bertautan dan terikat dalam suatu benang merah yang mencerminkan sikap, tindakan dan idealisme dari dirinya selama ini.

Putu Rudana juga mengungkapkan pentingnya upaya melakukan sinergi kreatif yang melibatkan seluruh potensi anak bangsa di segala bidang. “Saya juga memiliki cita-cita dan pengharapan bahwa pemimpin-pemimpin kita akan memimpin bangsa ini dengan pemahaman dan penghormatan akan kekayaan seni budaya warisan adiluhung bangsa ini. Di situlah sejatinya kekuatan Indonesia, di dalamnya terkandung kekuatan spiritual maupun potensi finansial atau ekonomi secara keseluruhan,” kata Putu Rudana yang juga Ketua IV Asosiasi Museum Indonesia yang membidangi Informasi, Publikasi dan Komunikasi.

Ke depan, Putu Rudana menegaskan perlunya upaya-upaya pencerdasan masyarakat melalui kegiatan semacam dialog budaya ini. Sejalan dengan itu pula, layak dikembangkan suatu semangat penghormatan atas gagasan atau buah pikiran seseorang sebahai hak kekayaan intelektual (hak cipta) yang harus dilindungi. “Acara renungan ini dan juga kegiatan-kegiatan lain yang pernah serta akan saya selenggarakan pada dasarnya adalah cerminan idealisme dan kepedulian saya yang bertujuan pada pembangunan karakter dan pekerti bangsa (nation and character building).

Sebagai bagian dari upaya membangun karakter dan pekerti bangsa tersebut, juga penghormatan akan warisan leluhur bangsa, Putu Rudana mendukung upaya untuk membangun ibukota baru, tentu termasuk di dalamnya istana kepresidenan yang representatif. “Ya, ibukota baru, itu bisa di mana saja tempatnya di tanah air ini. Para ahli layak dilibatkan dalam pemilihan dan perencanannya. Akan tetapi bagi saya, yang jauh lebih penting adalah bagaimana ibukota baru itu merupakan wujud dari jiwa dan semangat bangsa Indonesia secara keseluruhan. Dengan kata lain, bukan hanya membangun fisik ibukotanya, namun juga yang tak kalah penting adalah jiwa dari ibukota itu, yang seyogyanya merangkum kekayaan nilai-nilai luhur masyarakat Indonesia tanpa terkecuali. Oleh sebab itu, saya mengusulkan, bila kelak telah dibangun, istana tersebut sungguh tepat diberi nama Istana Nusantara,” ujar Putu Rudana.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *