Tag: museum

Putu Supadma Usulkan Pemekaran AMIDA Sumsel

RMOL.Sembilan museum meriahkan pameran senjata tradisional Sumatera dengan memamerkan sebanyak 95 pucuk senjata dari berbagai daerah dalam pameran “Senjata Tradisional Sumatera” yang berlangsung di Auditorium Museum Negeri Sumsel Balaputra Dewa, 21-26 Oktober 2015.

Telah mencukupinya jumlah museum yang ada di Sumsel. Menjadi pertimbangan untuk dilakukannya Pemekaran Asosiasi Museum Indonesia Daerah (Amida) Sumsel.

Ketua Umum Asosiasi Museum Indonesia (AMI), Putu Supadma Rudana mengatakan, pameran senjata tradisional sumatera diyakini akan memberikan inspirasi kepada semua pihak akan kekayaan warisan bangsa, bukan hanya sekedar senjata. Tetapi, filosofi dibalik itu.

“Bangsa Indonesia merupakan bangsa yang besar, dan sudah mampu menampilkan keluhuran kebudayaannya dari berbagai hal. Termasuk salah satunya dari senjata tradisional Sumatera,” ungkapnya saat ditemui, disela-sela pameran senjata tradisional, Rabu (21/10).

Dia menambahkan, AMI sekarang memiliki lebih dari 18 Asosiasi Museum Indonesia Daerah (Amida), dari Aceh hingga Papua, dan Sumsel tergabung dalam AMIDA bagian selatan. Kedepan, pihaknya menginginkan adanya pemekaran amida di Sumsel.

“Kalau sudah mampu sendiri, saya ingin ada pemekaran. Dimana amida Sumsel akan terbentuk dalam waktu yang tidak lama lagi. Karena, museumnya saya lihat sudah cukup banyak disini, lebih dari 5 museum, dan berkembang cepat,” tegasnya.

Adapun museum di Sumatera yang mengikuti pameran senjata tradisional yakni Museum Negeri Aceh, Museum Negeri Sumatera Utara, Museum Negeri Sumatera Barat, Museum Negeri Riau, Museum Negeri Jambi, Museum Negeri Bengkulu, Museum Negeri Sumsel, Museum Negeri Lampung, dan Museum Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang. [yip]

Sumber : RMOLSUMSEL.COM

Makna Simbolis dan Strategis Peresmian Museum Kepresidenan

Oleh : Putu Supadma Rudana*)

Berselang dua hari sebelum berakhir masa jabatannya, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) meresmikan Museum Kepresidenan Balai Kirti, bertempat di lingkungan Istana Bogor, Jawa Barat. Acara yang berlangsung pada tanggal 18 Oktober 2014 tersebut nyaris tanpa pemberitaan yang luas di tengah riuhnya euforia media massa menjelang pelantikan Presiden Indonesia terpilih Ir Joko Widodo. Kendati seluruh perhatian terpusat pada detik-detik menjelang pelantikan Jokowi, namun sesungguhnya peristiwa peresmian Museum Kepresidenan adalah sebuah momentum penting dalam sejarah Indonesia.

Peresmian museum Balai Kirti boleh dikata merupakan perwujudan gagasan Presiden SBY yang sedari tahun 2012 memang telah dicanangkannya. Dalam kesempatan menyampaikan sambutan pada acara peresmian, Bapak Presiden SBY menegaskan bahwa kehadiran museum ini bukan hanya diperuntukkan bagi enam presiden pendahulu Negara Republik Indonesia ini, melainkan juga bagi presiden-presiden mendatang.

Gagasan luhur tersebut menunjukkan Pak SBY adalah seorang negarawan yang visioner, menyadari bahwa memuliakan sejarah bermakna melanggengkan nilai-nilai kesejatian bangsa ini, yang diharapkan terangkum sebagai way of life, dan terwariskan dari generasi ke generasi. Oleh sebab itu, jelaslah bukan satu kebetulan bila museum Balai Kirti ini justru diresmikan di penghujung masa kepemimpinannya.

Selama kurun waktu 10 tahun menjadi Presiden Republik Indonesia, kita juga dapat menyaksikan bagaimana tingginya perhatian Pak SBY terhadap pelestarian, pengembangan dan kemajuan seni budaya di tanah air. Sebagai seorang prajurit yang telah bertugas di berbagai wilayah di nusantara ini, Beliau tentulah meresapi bagaimana Indonesia begitu kaya akan adat istiadat serta kehidupan kulturalnya. Ya, memang negara Indonesia yang kita cintai ini memiliki anugerah kekayaan yang luar biasa. Letaknya sangat strategis, di antara dua benua, Australia dan Asia, serta dua samudera, yakni Pasifik dan Hindia. Wilayahnya begitu luas, terdiri dari 17.504 pulau, berukuran besar dan kecil, terentang dari Sabang sampai Merauke, dari Pulau We sampai Pulau Rote.

Berangkat dari kesadaran akan kekayaan kultural nusantara tersebut, Pak SBY menilai museum memiliki peran yang terbilang strategis sekaligus simbolis. Tidak seperti yang selama ini dibayangkan oleh sebagian masyarakat awam, museum terbukti dapat difungsikan sebagai laboratorium kebudayaan atau semacam center of excellence, di mana para ahli, pakar aneka bidang dan juga generasi muda dapat mengembangkan ide-ide kreatif dan gagasan-gagasan cerdasnya berdasarkan suatu telaah yang lebih mendalam terhadap apa yang telah dicapai para leluhur melalui karya-karya berupa apapun yang tersimpan di dalam museum, sehingga menghasilkan kreasi-kreasi inovatif yang bermanfaat bagi pembangunan, baik itu tataran filosofis maupun praksis.

Mengukuhkan Kebudayaan, Meneguhkan Nilai Kebangsaan

Secara pribadi, sebagai seseorang yang lahir dan dibesarkan dalam lingkungan museum, serta kini dipercaya sebagai Ketua Umum Asosiasi Museum Indonesia (AMI) Pusat, saya merasa berbahagia dan menaruh hormat setingginya kepada Pak SBY yang memposisikan keberadaan museum sedemikian mulianya. Sebagai kepala negara dan pemerintahan, di akhir-akhir masa kepemimpinannya, beliau justru tidak berusaha membangun citra keagungannya dengan meresmikan proyek-proyek mercusuar berupa bangunan-bangunan spektakuler atau jembatan-jembatan megah, melainkan sebuah Museum.

Sejalan dengan itu, AMI sebagai satu-satunya organisasi mitra pemerintah dalam bidang permuseuman, hingga kini menaungi lebih dari 400 museum se-Nusantara serta 18 Asosiasi Museum Indonesia Daerah (AMIDA) yang tersebar di seluruh Indonesia. Selama ini pula, menjalankan amanat dan kepercayaan keluarga besar museum Indonesia, saya telah melakukan kunjungan serta silahturahami ke berbagai museum di tanah air, baik yang dikelola swasta maupun negeri. Kunjungan tersebut kian menyadarkan saya bahwa kehadiran museum di tengah masyarakat bukan semata sebagai tempat menyimpan dan menjaga warisan budaya nusantara, namun lebih jauh lagi yaitu untuk merawat memori kultural bangsa ini. Melalui museum beserta koleksi berharganya, kita dapat mempelajari keadiluhungan masa silam seraya berupaya menyikapi dan memaknai nilai-nilai di dalam memorabilia tersebut sebagai inspirasi guna mengembangkan daya kreatif bangsa ini.

Program dan agenda-agenda kegiatan AMI sesungguhnya memang bermuara pada satu sasaran utama, yakni Pembangunan Karakter dan Pekerti Bangsa (Nation and Character Building) menuju terwujudnya masyarakat adil dan makmur sesuai cita-cita para founding father. Kegiatan-kegiatan dimaksud, baik berupa pameran, dialog, penerbitan atau pertunjukan, dilaksanakan secara berkala dan berkelanjutan, mengundang budayawan, tokoh dan pakar berbagai bidang yang memiliki perhatian pada kemajuan kebudayaan dan pendidikan di Indonesia. Melalui kegiatan yang mentradisi tersebut, diharapkan tersemai gagasan-gagasan bernas, cerdas dan visioner serta mencerahkan, sebagaimana yang diharapkan Pak SBY sewaktu meresmikan Museum Kepresidenan.

Jelaslah pendirian dan peresmian Museum Kepresidenan tersebut bukan semata bermakna simbolis yang mencerminkan visi kenegarawanan seorang Presiden, melainkan juga merefleksikan pengharapan Pak SBY selama ini, yakni hendaknya kehidupan perpolitikan di tanah air didasari oleh etika politik yang bersih, cerdas dan menjunjung nilai-nilai kebangsaan, yang nasionalis sekaligus dipenuhi suasana kebersamaan serta toleransi. Inilah politik yang berbudaya, yang tak semata-mata hanya berlomba berebut dan melanggengkan kekuasaan, akan tetapi berjuang bersama-sama dengan mengedepankan panggilan pengabdian demi Indonesia.

*)Ketua Departemen Kebudayaan dan Pariwisata DPP Partai Demokrat dan Ketua Umum Asosiasi Museum Indonesia

Sumber : website Partai Demokrat

Museum, Setelah Pencuri Beraksi ….

KEHADIRAN benda-benda dari masa lalu di sebuah museum kerap dipandang sebelah mata. Tidak di mata pencuri! Itulah nasib harta bangsa di ”gudang-gudang” berdebu. Meski pencuri beraksi, toh, tak tampak kegalauan yang pasti….

Sabtu siang akhir pekan lalu, beberapa keluarga dan turis asing menjelajahi bangunan baru Museum Nasional. Di lantai dasar, mereka terpesona mengamati tengkorak hitam manusia purba jutaan tahun lalu dari Sangiran, Sragen, Jawa Tengah.

Di antara koleksi tengkorak dan tulang dalam fitrin kaca serta gambar ilustrasi manusia purba, muncul wajah kekanakan Gerry (10), siswa kelas V SD di Tangerang. ”Gerry, manusia purba mana yang mirip kita? Mirip kamu,” ujar Lista (34), guru sekolah Gerry sambil bergurau. ”Itu!” ujar Gerry sambil terkikik menunjuk papan bergambar Homo erectus tipik, si manusia berjalan tegak dan berburu hewan.

Bagi Lista, bercerita tentang Indonesia paling mudah di museum terbesar di Indonesia itu. Sebanyak 141.889 item koleksi yang telah melintasi waktu tersimpan di sana. Hari itu target utama mereka ialah mengunjungi ruang arca serta ruang emas. Murid kelas V sudah belajar masa Hindu dan Buddha. Dan, berita hilangnya empat benda emas warisan Kerajaan Mataram Kuno abad ke-10 hingga ke-11 Masehi, 11 September 2013, memancing rasa penasaran.

Hanya saja, ruang emas dan arca di bangunan lama masih tertutup bagi pengunjung setelah pencurian itu. Polisi masih menyelidiki kasus itu. Ruang khazanah emas di bangunan baru juga ditutup partisi.

Kunjungan wisatawan mancanegara di Museum Nasional Jakarta, Jumat (4/10/2013). Beberapa waktu lalu, museum tersebut telah kehilangan empat artefak berlapis emas yang merupakan peninggalan Kerajaan Mataram Kuno pada abad 10 Masehi.

Penutupan ruang-ruang itulah jejak nyata aksi pencurian. Selebihnya, suasana tenang. Petugas keamanan hanya berkumpul di pintu lantai dasar dan lantai teratas yang memamerkan arkeologi bawah air. Meja yang disediakan untuk petugas di sudut tiap lantai museum pun kosong. Masuk ke ruang pajang, tak ada yang menyambut tamu.

Keresahan lebih tampak ketika berbincang dengan Kepala Museum Nasional Intan Mardiana. Bagi Intan, kasus pencurian itu tamparan keras karena terjadi ketika pihaknya membenahi museum. ”Kami sedang mendata ulang koleksi,” ujarnya.

Setelah kejadian pencurian itu, dia berencana menambah petugas pengamanan yang sekarang berjumlah 15 orang. Kamera pemantau juga akan dibuat terkoneksi sehingga memudahkan pengawasan.

Arkeolog peneliti dari Pusat Arkeologi Nasional, Bambang Budi Utomo, berpandangan, museum adalah aset bangsa, apalagi Museum Nasional. Gengsi bangsa ada di Museum Nasional sebagai tempat mengumpulkan karya-karya agung suatu bangsa.

”Di situlah kita akan melihat bahwa dulu itu bukan ruang hampa. Manusia masa lampau mampu membuat karya seni yang indah dengan teknologi terbatas,” ujarnya.

Setelah emas hilang

Tidak hanya di Museum Nasional kepingan agung masa lalu diam-diam berpindah tangan. Tiga tahun silam, 87 koleksi emas Museum Sonobudoyo, Yogyakarta, berbentuk arca, topeng, dan perhiasan juga dicuri. Sejak itu, museum dengan koleksi 62.661 item itu berbenah. Kepala Museum Sonobudoyo Riharyani menuturkan, kini ada 22 kamera pemantau di semua ruang pamer. Museum pun dipasangi alarm antipencuri. Dulu, saat pencurian terjadi, kamera pemantau dan alarm mati. Petugas pengamanan ditambah sebanyak 11 orang.

Kunjungan wisatawan mancanegara di Museum Nasional Jakarta, Jumat (4/10/2013).
Namun, koleksi yang dikelola Pemerintah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta itu tetap rentan tangan jahat. Ragam koleksi diletakkan di lemari-lemari pajang yang ketinggalan zaman berupa lemari besar berkaca dan berbingkai kayu tipis, ringkih. Keamanan hanya mengandalkan kunci tak bedanya dengan lemari pakaian.

Koleksi-koleksi arca peninggalan Mataram Kuno dari abad ke-8 dan ke-12 Masehi diletakkan begitu saja di luar gedung, tak terlindung dari surya dan hujan. Sebagai pengaman, arca-arca itu disemen. ”Arca tidak mungkin digendong karena disemen. Membongkarnya pun sulit,” ujar Riharyani.

Museum terbesar kedua di Indonesia itu terbentur anggaran dan sempitnya ruang pamer. Kata Riharyani, situasi itu bakal dibenahi bertahap. Tahun 2014, gedung museum unit I diperluas dengan tambahan area yang sekarang dipakai KONI DIY.

Radya Pustaka

Museum tertua di Indonesia, Radya Pustaka, Solo, Jawa Tengah, tidak hanya harus bekerja keras memperbaiki sistem keamanan, tetapi juga mengembalikan citra. Enam arca batu dari abad ke-7 dan ke-9 Masehi satu per satu hilang dan digantikan dengan arca tiruan tahun 2007. Bahkan, berdasarkan hasil reinventarisasi Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala tahun 2007, ada 60 koleksi lain yang hilang dan dipalsukan. Gara-gara pencurian itu, citra ”museum replika” menempel.

Selama 100 hari ini, museum yang menjadi rumah bagi lebih dari 3.000 item koleksi dan sekitar 500 naskah itu tidak membuka layanan kunjungan karena bersolek. Dindingnya yang kusam dicat, fitrin diperbaiki, dan koleksi ditata ulang. ”Kami ingin mengembalikan citra museum,” ujar Ketua Komite Museum Radya Pustaka Purnomo Subagyo.

Sayangnya, akibat revitalisasi itu, alarm dan kamera pemantau di 16 lokasi tak bisa berfungsi karena kantor pusat kontrol dirobohkan untuk dibangun baru. Koleksi berukuran kecil dimasukkan ke peti-peti kayu bergembok. Sebagian patung diletakkan di luar, dipagari bedeng tripleks kemudian digembok. Koleksi besar dibiarkan di tempatnya dan ditutupi plastik. Juru pelihara museum Setyo Triyono mengatakan, museum dijaga 24 jam dan koleksi dicek setiap tiga hari sekali.

Toh, kasus-kasus pencurian koleksi menguap begitu saja. Kasus Radya Pustaka menyeret kepala museum, dua pegawai, dan seorang perantara. Namun, seorang diler barang antik dari luar negeri hingga kini tak tersentuh hukum. Di Museum Sonobudoyo, emas yang hilang belum diketahui keberadaannya. Sementara, kasus pencurian di Museum Nasional sebelumnya, yakni hilangnya keramik dan lukisan tahun 1995, juga tak jelas ujung penyelesaiannya. Koleksi keramik tidak kembali, sedangkan lukisan ditemukan saat akan dilelang di luar negeri.

Beberapa koleksi arca batu dari abad VII-X Masehi koleksi Museum Radya Pustaka, Solo ditaruh di teras gedung. Saat ini museum dalam tahap pengecatan dan penataan ulang koleksi.

Ketua Umum Asosiasi Museum Indonesia Pusat, Putu Supadma Rudana mengungkapkan keprihatinannya terhadap berulangnya kasus pencurian koleksi museum. ”Ini sebagian merupakan potret lemahnya pengamanan, penataan, dan pengelolaan museum di Indonesia,” katanya.

Museolog Kartum Setiawan mengatakan, seharusnya ada standar keamanan sesuai jenis koleksi. ”Bagi kebanyakan orang, benda-benda tua itu tak dipandang, tetapi kolektor menganggapnya berharga.”

Dia mencontohkan, di Museum Mpu Tantular di Sidoarjo, Jawa Timur, koleksi emas diletakkan di ruang brankas dan dinikmati dari balik terali besi. Kata Kartum, Museum Nasional diibaratkan ”museumnya museum”. Kepada Museum Nasional- lah museum di daerah berkiblat.

Namun, Bambang melihat marwah Museum Nasional meredup. ”Sejak tahun 1998, Museum Nasional jarang dikunjungi tamu-tamu negara. Entah, bangsa atau pemimpinnya yang tidak peduli,” ujarnya. Yang jelas, awas pencuri tetap peduli! (INE/COK/EKI/RWN/CAN)

Sumber : KOMPAS, 8 Oktober 2013

Putu : Museum Merupakan Kekayaan Bangsa

Kaganga.com, Palembang- Museum bukanlah hanya sebuah gedung, melainkan kekayaan bangsa. Hal ini diungkapkan Ketua Umum Asosiasi Museum Indonesia (AMI), Putu Supadma Rudana saat diwawancarai saat menghadiri pameran senjata tradisional, Museum Balaputra Dewa Palembang, Rabu (21/10).

Putu mengatakan, pihaknya menginginkan adanya sinergi dengan semua pihak, baik pemerintah pusat ataupun pemerintah daerah untuk memuliakan museum. “Hal ini dikarenakan museum merupakan rumah tertinggi daripada kebudayaan, rumah abadi peradaban dan merupakan kekayaan bangsa. Jadi museum bukan sekedar bangunan saja,” katanya.

Alasan museum merupakan kekayaan bangsa karena apa yang ada didalam museum merupakan kekayaan bangsa yang nilainya melebihi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Indonesia. “Nilanya melebihi Triliunan Dollar atau apapun itu,” ujar Putu.

Putu mengungkapkan, untuk itulah dirinya berharap agar Pemerintah Indonesia termasuk Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumatera Selatan (Sumsel) dapat memuliakan museum dengan memperhatikan Sumber Daya Manusia (SDM)-nya yang selama ini merasa dipinggirkan dan anggarannya dibesarkan karena selama ini masih kecil. “Selain itu juga dibuatkan Undang-Undang yang mengatur permuseuman,” ungkapnya.

Ketua Umum Asosiasi Museum Indonesia (AMI) Putu Supadma Rudana juga menyatakan bahwa Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) diminta untuk melakukan pemekaran Asosiasi Museum Indonesia Daerah (AMIDA) Sumsel.

“Kita mengusulkan agar Sumsel melakukan pemekaran AMIDA Sumsel karena saat ini museum yang ada di Sumsel telah mencukupi dan itu merupakan salah satu pertimbangan untuk melakukan pemekaran,” katanya saat diwawancarai seusai menghadiri acara pameran “Senjata Tradisional Sumatera” yang berlangsung di Auditorium Museum Negeri Sumsel Balaputra Dewa, Palembang.

Saat ini Provinsi Sumsel masih tergabung dalam AMIDA bagian selatan. “Saya rasa pemekaran untuk AMIDA Sumsel akan terlaksana dalam waktu yang tidak lama lagi. Sebab perkembangan museum di sumsel berkembang cepat dan juga jumlahnya sudah cukup banyak yaitu lebih dari 5 museum,” ujar Putu.

Putu mengungkapkan, saat ini untuk AMI memiliki lebih dari 18 AMIDA baik dari aceh hingga papua. “jika sumsel telah mekar maka AMI akan memiliki 19 AMIDA,” ungkapnya.

Untuk diketahui, pameran “Senjata Tradisional Sumatera” yang berlangsung di Auditorium Museum Negeri Sumsel Balaputra Dewa, Palembang ini berlangsung dari 21-26 Oktober 2015 dan diikuti 9 museum yang ada di pulau sumatera yaitu Museum Negeri Aceh, Museum Negeri Sumatera Utara, Museum Negeri Sumatera Barat, Museum Negeri Riau, Museum Negeri Jambi, Museum Negeri Bengkulu, Museum Negeri Sumsel, Museum Negeri Lampung, dan Museum Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang.

Author : Ambar Wai
Editor : Gaara Nasution

Sumber : Kaganga.com, 21 Oktober 2015

Museum Harus Memiliki Daya Tarik di Mata Dunia

Pameran bukan hanya sekadar menyajikan koleksi, tetapi lebih ke pendidikan untuk memperkuat kebanggaan nasional dalam rangka memperkokoh ketahanan budaya, serta memupuk rasa nasionalisme.

MajalahKartini.co.id – Kepala Museum Nasional Dra Intan Mardiana, M.Hum, menyatakan museum-museum yang ada di Indonesia harus memiliki daya tarik dan daya tawar untuk bisa bersaing di Asia dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi Asia (MEA).Sebanyak 412 museum yang tersebar di Indonesia, harus memiliki kemampuan untuk bersaing.

“Mau tidak mau kita akan berhadapan dan bersaing dengan museum-museum dari negara tetangga, untuk itu museum di Indonesia harus mempersiapkan daya tarik untuk bisa bersaing,” katanya saat pembukaan acara pameran ragam pesona kain tradisional nusantara yang diadakan di Museum Adityawarman Sumatera Barat (Sumbar), Rabu (5/8).

Ia mengatakan, pameran merupakan tugas utama termasuk pameran ragam pesona kain tradisional nusantara yang saat ini diadakan oleh Museum Adityawarman Sumbar.

Pameran yang bertajuk “Kain Tradisional Primadona Nusantara Yang Elok Bagus di Tengah Modernisasi” ini, katanya, hendaknya bisa mengembangkan museum menuju era MEA tersebut. “Melalui pameran nasional ragam pesona kain tradisional nusantara seperti ini, bisa menyatukan keberagaman budaya dan masyarakat dalam satu kesatuan,” tambahnya.

Ia menjelaskan, perlu untuk menciptakan pameran museum yang memiliki banyak dampak baik, seperti peningkatan ilmu pengetahuan, penguatan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. “Tugas museum untuk melestarikan dan menginformasikan budaya memang cukup berat,” ujarnya.

Untuk itu, katanya, di masa depan masih harus banyak membenahi museum dalam bidang manajemen maupun sumber daya manusia (SDM). Ketua Umum Asosiasi Museum Indonesia (AMI) Putu Supadma Rudana mengatakan bahwa setiap tahun museum Indonesia selalu menyelenggarakan acara pameran yang dilakukan secara bergilir.

“Ini merupakan sebuah kebersamaan untuk menjalin kenusantaraan kita dalam rangka memuliakan warisan budaya bangsa,” katanya. (ANT/Foto: ANT FOTO/Ampelsa)

Sumber : MAJALAH KARTINI, 6 Agustus 2015

Ketua Umum AMI Kukuhkan AMIDA Provinsi Sumbar

Ketua Umum Asosiasi Museum Indonesia (AMI) Putu Supadma Rudana, MBA mengukuhkan Asosiasi Museum Indonesia Daerah (AMIDA) Sumatera Barat (Sumbar) pada Rabu (5/8) disela-sela pembukaan Pameran Ragam Pesona Kain Tradisional Nusantara di Museum Adityawarman Jalan Diponegoro No. 10 Padang dan kepala Museum Adityawarman Noviyanty, A. SH, MM terpilih sebagai ketua AMIDA Sumbar periode 2015-2020.

Dalam sambutannya ketua AMI pusat mengatakan bahwa tantangan kedepan adalah bahwa bangsa kita masih berada dibawah negara lain dalam perhatiannya terhadap museum. Tujuan Asosiasi ini adalah sebagai mitra sejajar pemerintah dalam menampung aspirasi SDM Museum se-Indonesia untuk kemajuan museumdimasa yang akan datang. “Dalam satu tahun ini kami sudah berkeliling Indonesia untuk mewujudkan dan mengukuhkan AMI dari Aceh hingga Papua, untuk minggu ini dikukuhkan adalah AMIDA Sumbar,” kata Ketua Umum AMI, Putu Supadma Rudana.

Untuk itu, katanya, harus dibuat komitmen bersama dari pemerintah pusat, daerah, AMI pusat dan daerah untuk bekerja sama dalam membangun museum yang lebih baik. Ia menyebutkan, sudah ada kurang lebih 18 AMIDA yang sudah dikukuhkan yaitu, Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Sumatera Selatan, Jawa Barat, Banten, DKI, DIY, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Papua, dan Taman Mini Indonesia Indah (TMII).

“Karena kawasan taman mini memiliki lebih dari 20 museum, sangat penting memiliki asosiasi museum kawasan (AMIKA) yang setara dan sejajar dengan AMIDA,” ujarnya. Ia berharap, kedepannya museum dapat bermanfaat bagi semua pihak, karena museum merupakan rumah tertinggi kebudayaan dan sumber inspirasi semua pihak.(zal)

Sumber : museumadityawarman.info

Putu Supadma: Museum di Indonesia Sepi Pengunjung

Ketua Umum Museum Indonesia, Putu Supadma Rudana melakukan kunjungan ke beberapa museum di Kota Solo, Jawa Tengah. Putu dan beberapa orang timnya melakukan kunjungan ke Museum Radya Pustaka, Museum Batik Danarhadi, serta Monumen Pers Solo, Senin (2/3/2015).

Menurut Putu, saat ini kondisi museum di Indonesia sangat memprihatinkan hingga sepi pengunjung. Putu menjelaskan ada beberapa hal yang membuat museum di Indonesia kondisinya sangat memperihatinkan.

“Contoh saja apabila ada program revitalisasi museum. Dana yang digunakan tidak untuk hal-hal penting seperti perbaikan tetapi hanya untuk mengubah tata letaknya saja,” ujarnya saat ditemui di Monumen Pers.

Dia menambahkan saat ini Asosiasi Museum Indonesia juga gencar melakukan kerja sama dengan Dinas Pendidikan maupun Dinas Pariwisata untuk meningkatkan jumlah pengunjung.

“Kami ingin nantinya sekolah-sekolah atau perguruan tinggi minimal memiliki rencana pembelajaran ke museum. Demikian juga untuk program-program pariwisata,” katanya.

Source : http://travel.kompas.com/read/2015/03/03/101555327/Putu.Supadma.Museum.di.Indonesia.Sepi.Pengunjung

AMI Desak Pengelola Museum Rangkul Komunitas

SOLO – Asosiasi Museum Indonesia (AMI) mendesak kepada pengelola museum baik di Solo maupun di kota-kota di Indonesia melibatkan berbagai komunitas dalam pengembangan museum. Langkah tersebut terbukti efektif untuk menggairahkan eksistensi museum yang hadir di masing-masing kota.

Ketua Umum Asosiasi Museum Indonesia (AMI) Putu Supadma Rudana mengatakan, museum-museum terkenal di berbagai kota di Indonesia seperti Bandung, Yogyakarta, dan Jakarta sudah melibatkan berbagai pemangku kepentingan dan pihak luar dalam pengembangan tempat menyimpan benda bersejarah.

Ia mengharapkan, kota-kota lain yang memiliki museum bisa meniru langkah itu.

”Seperti di Yogyakarta yang memiliki Museum Affandi, Museum Asia Afika Bandung, Museum Nasional. Di kota-kota itu sahabat-sahabat dan komunitas pencinta museum turut aktif mengembangkan museum. Saya berharap di Solo yang memiliki sejumlah museum penting juga melakukan hal yang sama,” terang Putu kepada wartawan saat berkunjung ke Museum Pers Nasional Surakarta, Senin (2/3).

Museum Daerah

Putu menyatakan, AMI melalui Asosiasi Museum Indonesia Daerah (Amida) akan turut andil mengembangkan museum di daerah. Tahun lalu hingga bulan ini AMI sedang membentuk AMIDA di daerah-daerah untuk mewadahi para pengelola museum. Selanjutnya lembaga tersebut memantau keberadaan museum yang masih berdiri dan aktif.

Di Solo lanjutnya, ia dan pengurus AMI sudah berkunjung ke Museum Radya Pustaka. Museum Batik Danar Hadi dan Museum Pers Nasional Surakarta (MPN).

Museum-museum yang sudah memiliki nama tenar ini memiliki potensi untuk dikembangkan lebih baik lagi.

”Ini tugas AMI dan tentunya pemerintah daerah setempat/pemerintah pusat untuk lebih mengembangkan museum tersebut. Selain dikenal oleh masyarakat, museum-museum itu harus bisa memberikan kontribusi baik secara ekonomi, ilmu pengetahuan, dan edukasi bagi masyarakat di sekitarnya,” katanya.

Kepala Museum Pers Nasional Surakarta, Suminto Yuliarso, menyambut baik masukan dari AMI. menrutunya dalam dua bulan ini pihaknya bakal menggelat kegiatan untuk mengandeng masyarakat, pelajar untuk menjadi bagian dari MPN.

”Bulan ini kami akan menggelar sayembara mencari figur yang dijadikan sebagai Sahabat MPN. Harapan kami sosok yang terpilih akan menjadi duta museum dan mengenalkannya ke dunia luar,” imbuhnya. (J5-50)

Sumber : Suara Merdeka, 3 Maret 2015

Museum Laboratorium Kebudayaan

KOMPAS – Harus diakui, kondisi rata-rata museum di Indonesia relatif memprihatinkan. Tidak hanya soal pengelolaan, tetapi juga benda-benda koleksi di dalamnya yang berusia ratusan tahun pun dalam keadaan menyedihkan.

”Itu (kondisi) yang pantas dibenahi. Kita ingin museum bisa menjadi laboratorium kebudayaan,” ujar Ketua Asosiasi Museum Indonesia (AMI) Putu Supadma Rudana (38), pekan lalu, di Denpasar, Bali.

Guna merintis jalan ke arah perbaikan tersebut, pada 12 Agustus lalu, Supadma menandatangani statement of commitment dan memorandum of understanding (MOU) dengan Museum Association of Thailand (MAT).
President MAT Somchai Na Nakhonphanom dan penasihat MAT, Somlak Charoenpot, pun hadir di Bali dalam penandatanganan kerja sama tersebut.

”Ini baru langkah awal kami untuk kembali menoleh pada museum. (Museum) Sudah terlalu lama tertidur…,” kata Supadma yang juga President of The Rudana Ubud.

Bersama MAT, AMI akan menyelenggarakan berbagai upaya edukasi, apresiasi, dan komunikasi kebudayaan.

”Prinsipnya, kita kembali harus memuliakan kebudayaan,” ujar Supadma.

Sebagai ikatan kerja sama dan persaudaraan, Supadma menyerahkan selendang yang disebutnya sebagai ”Selendang Tulus Hati” kepada Somchai dan Somlak.

”Selendang ini tanda pertautan kebudayaan intim antara Indonesia dan Thailand,” ujar Supadma. (CAN)

Sumber : KOMPAS, Senin, 27 Agustus 2012

Melalui Museum, Sinergi Seni Membangun Bangsa

MELALUI MUSEUM, SINERGI SENI MEMBANGUN BANGSA
Sebuah Catatan tentang Visit Museum Year 2010
Oleh Putu Supadma Rudana, MBA*)

Bagaimanakah kita seharusnya memaknai pencanangan Tahun Kunjungan Museum 2010 (Visit Museum Year 2010)? Tentu jawabannya terpulang pada masing-masing pihak, sesuai dengan profesi, kepentingan, serta latar sosial-budaya yang bersangkutan. Namun sesuatu hal yang tak bisa disangkal, penetapan museum sebagai fokus program sekaligus branding acuan jelaslah menunjukkan bahwa pemerintah secara keseluruhan, tak terkecuali Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, menyadari peran strategis yang dapat disandang oleh museum, baik swasta maupun negeri.

Di sisi lain, patut dikemukakan, penetapan Tahun Kunjungan Museum 2010, merefleksikan pula kesadaran dari pengambil kebijakan bahwa museum hakikatnya bukan semata gedung tempat penyimpanan hasil-hasil kreativitas warisan leluhur atau peninggalan purbakala maupun arsip-arsip dokumentasi masa silam, melainkan memiliki tawaran akan nilai-nilai universal yang terkait kekinian serta berguna untuk turut merumuskan masa depan. Terlebih lagi, bila kita sedia mengkaji tentang adanya kenyataan bahwa Indonesia adalah sebuah republik yang masyarakatnya majemuk, multietnis dan multikultur, serta tengah menghadapi dinamika percepatan perubahan sebagai akibat hadirnya nilai-nilai global, buah dari kemajuan teknologi informatika yang nan canggih itu.

Dengan kata lain, Indonesia yang memiliki letak yang strategis antara dua benua, Asia dan Australia, serta dua samudera, Hindia dan Pasifik, menghadapi tantangan ke depan yang memerlukan suatu pola penanganan yang holistik berlandaskan kerja sama semua pihak tanpa terkecuali. Upaya mengatasi problematik bangsa ini, memang bukan hanya tugas Presiden sebagai eksekutif beserta jajaran pemerintahnya, akan tetapi juga merupakan tanggung jawab anggota legislatif, yudikatif dan, terkait di dalamnya, para profesional aneka bidang, serta tak ketinggalan masyarakat umum lainnya. Dalam konteks ini, sebagaimana berulang saya kemukakan dan juga wujudkan melalui berbagai kesempatan serta kegiatan, perlu dikedepankan oleh semua pihak suatu upaya sinergi menuju kesempurnaan. Bahkan dalam tataran tertentu, berlandaskan niat baik, saya percaya dengan upaya sinergi tersebut segala hal yang kelihatannya bertolakbelakang dapat di-manage untuk saling dukung dan saling topang.

Museum: Sinergi Seni Membangun Bangsa

Sebagaimana sekilas diulas di atas, peran museum, terlebih di era kompetisi global seperti sekarang ini, sungguh sangat strategis. Tidak seperti yang selama ini dibayangkan oleh sebagian masyarakat awam, museum terbukti dapat difungsikan sebagai laboratorium kebudayaan, di mana para ahli, pakar aneka bidang dan juga generasi muda dapat mengembangkan ide-ide kreatif dan gagasan-gagasan cerdasnya berdasarkan suatu telaah yang lebih mendalam terhadap apa yang telah dicapai para leluhur melalui karya-karya berupa apapun yang tersimpan di dalam museum. Saya kira adalah suatu yang tidak berlebihan bila dalam Diskusi dan Komunikasi Museum Indonesia serta Musyawarah Asosiasi Museum Indonesia di Jambi belum lama ini, mengemuka suatu dialog tentang layaknya menjadikan museum beserta organisasi pengelolanya menjadi semacam center of excellent. Yakni, semacam laboratorium yang memungkinkan para ahli untuk melakukan suatu kajian dan program akademis secara tepat guna dan tepat makna, guna mengembangkan pemikiran atau menghasilkan kreasi-kreasi inovatif yang bermanfaat bagi pembangunan bangsa, baik itu tataran filosofis maupun tataran praksis.

Mencermati hal tersebut, sebagaimana juga apresiasi masyarakat dan pemerintah di mancanegara terhadap keberadaan museum, seyogyanya kita melakukan upaya-upaya terpadu dan terkoordinasi untuk mendorong peningkatan profesionalisme di kalangan pekerja dan pengelola lembaga ini. Belajar dari luar, terlihat benar bahwa tumbuhnya apresiasi dan penghargaan publik selalu sejalan dengan capain pihak museum untuk meningkatkan pengelolaan dan fasilitasnya serta penyempurnaan koleksinya dengan dukungan segala data berikut fakta-fakta sejarah yang teruji. Tentu saja, Asosiasi Museum Indonesia (AMI) beserta anggotanya, dalam hal ini HIMUSBA Bali, perlu menyamakan visi, misi serta persepsi, dalam menyongsong Tahun Kunjungan Museum 2010. Masing-masing selayaknya terpanggil untuk mengadakan pembenahan menyeluruh serta pencanangan program yang saling sinergi seraya menyadari bahwa museum juga merupakan salah satu sarana pembangunan karakter dan pekerti bangsa (nation and character building).

Boleh dikata, jauh sebelum pemerintah mencanangkan Tahun Kunjungan Museum 2010, Museum Rudana telah berulang mengadakan event-event seni budaya yang menegaskan bahwa museum dapat pula menjadi wadah aktivitas yang turut menggelorakan upaya-upaya pencapaian seni yang bersemangat kekinian tanpa hafrus tercerabut dari akar kultur warisan para leluhur. Bahkan lebih jauh dari itu, saya juga menggagas diadakannya suatu lomba esai, ditujukan untuk generasi muda, bertopik “Harapan Masyarakat Terhadap Pemimpin Masa Depan Indonesia”. Di luar dugaan, lomba ini disambut antusias oleh generasi muda, diikuti oleh lebih kurang dari 1.000 peserta, mewakili anak-anak muda pelajar serta mahasiswa serta umum lainnya yang mencoba berpikir cerdas dan kritis tentang bagaimana dan akan kemana nasib negara ini kelak di kemudian hari. Kegiatan tersebut juga dilanjutkan dengan acara malam apresiasi seni yang diadakan tiga malam berturut-turut, menyajikan aneka kreatifitas; dari teater, dramatisasi dan pembacaan puisi, musik serta film pendek kreasi anak muda. Hal mana itu menunjukkan bahwa melalui museum dapat diperjuangkan suatu sinergi seni untuk membangun bangsa.

Secara lebih fokus dan khusus, dengan menimbang bahwa museum bisa menjadi center of excellent serta laboratorium kebudayaan seperti disinggung di awal tulisan ini, sinergi seni tersebut patut diketengahkan dalam wujud program-program nyata yang lebih terarah dan berkelanjutan guna mendorong upaya-upaya pembentukan karakter dan watak bangsa. Sebab hanya negara yang telah menemukan jati dirinya serta kuasa mengukuhkan nation and character building-nya, berpeluang untuk unggul dalam persaingan global. Dengan demikian, sudah tidak pada tempatnya lagi di era demokratis ini untuk melakukan dikotomi antara berbagai kepentingan dan idealisme atas nama apapun. Bahkan dalam titik kesadaran tertentu, saya dengan sungguh-sungguh mencoba mewujudkan apa yang menjadi keyakinan hidup yakni the art of business in the business of art (seni berbisnis dalam bisnis seni), serta the art of excellent, atau seni kesempurnaan, di mana kita tidak puas hanya sekadar menjadi mediocre (setengah-setengah saja).

Melalui museum, beserta koleksi adiluhungnya, kita dapat mempelajari keagungan masa silam seraya menggagas kemungkinan masa depan tanpa lalai atau abai pada upaya menyikapi dan memaknai kekinian secara lebih kreatif. Saya yakin, melalui Tahun Kunjungan Museum 2010, secara pasti akhirnya Indonesiaakan menjadi the heart of Asia and heart of the world.

Selamat berjuang dan selamat bersinergi!

*) Penulis adalah salah satu Ketua Asosiasi Museum Indonesia (AMI)
Tulisan ini telah dimuat di Majalah Musea edisi 2009