Category: Politik

Putu Supadma Resmi Gantikan Sudiartana

JAKARTA, BALIPOST.com – Wakil Sekjen DPP Partai Demokrat Putu Supadma Rudana resmi menggantikan Putu Sudiartana sebagai anggota DPR RI dari Fraksi Partai Demokrat. Selain Supadma, DPR juga melantik politisi dari Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) G. Budi Satrio Djiwandono yang menggantikan rekan separtainya, Luter Kombong.

Pelantikan dan pengambilan sumpah dilakukan pada rapat paripurna DPR RI yang dipimpin Wakil Ketua DPR Bidang Koordinator Ekonomi dan Keuangan (Korekku) Taufik Kurniawan di Gedung DPR, Komplek Parlemen, Jakarta, Kamis (24/8).  Putu Supadma Rudana dilantik menjadi anggota DPR RI Pergantian Antar Waktu (PAW) sisa masa jabatan tahun 2014-2019.

Sebelum pelantikan dan pengambilan sumpah, Taufik Kurniawan meminta persetujuan anggota DPR yang hadir di dalam rapat paripurna. “Apakah rapat paripurna menyetujui untuk didahului pelantikan Anggota Penggantian Antar Waktu?” tanya Wakil Ketua DPR RI Taufik Kurniawan selaku pimpinan rapat. “Setuju,” jawab para anggota DPR serempak.

Taufik kemudian memandu pengambilan sumpah jabatan keduanya. Putu Supadma disumpah berdasarkan agama Hindu, sedangkan Budi Satrio disumpah berdasarkan agama Katolik.

Usai pengambilan sumpah, Taufik berharap kepada keduanya bisa memperkuat tugas konstitusional DPR.  “Kita semua, seluruh pimpinan dan anggota dewan mengucapkan selamat atas anggota yang baru saja dilantik, semoga dengan bergabungnya saudara, akan lebih memperkuat pelaksanaan tugas konstitusional dewan,” kata Taufik.

Upacara pelantikan anggota DPR PAW sisa masa keanggotaan 2014 – 2019 diawali dengan pembacaan Petikan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 91 dan Nomor 92 tahun 2017 tentang peresmian antar waktu anggota DPR dan anggota MPR.

Sesuai dengan ketentuan perundangan, sumpah jabatan yang diucapkan mengandung tanggung jawab pada bangsa dan negara. Serta tanggung jawab memelihara dan menjaga Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. “Sumpah ini adalah janji pada Tuhan Yang Maha Kuasa dan manusia yang harus ditepati dengan penuh kejujuran,” pesan Taufik.

Saat membacakan sumpah jabatan, Putu Supadma dan Budi Satrio menyatakan akan menjalankan ketentuan perundangan yang ada. “Bahwa saya dalam menjalankan kewajiban akan bekerja dengan sungguh-sungguh demi tegaknya kehidupan demokrasi, serta mengutamakan kepentingan bangsa dan negara dari pada kepentingan pribadi, seseorang, dan golongan,” kata Supadma dan Budi Satrio.

PAW Supadma yang mengucapkan sumpah pertama merupakan anggota MPR/DPR dari daerah pemilihan Bali menggantikan I Putu Sudiartana.

Adapun Putu Sudiartana telah di vonis enam tahun penjara oleh majelis hakim di Pengadilan Tipikor Jakarta. Majelis hakim juga mewajibkan Sudiartana membayar denda Rp 200 juta subsider 3 bulan kurungan.

Dalam pertimbangan hukumnya, majelis hakim menilai Putu Sudiartana terbukti menerima uang Rp 500 juta dari pengusaha Yogan Askan. Uang itu terkait pengusahaan dana alokasi khusus (DAK) kegiatan sarana dan prasarana penunjang Provinsi Sumatera Barat, pada APBN-P 2016. Mantan Wakil Bendara umum Partai Demokrat itu juga dinilai terbukti menerima gratifikasi yang jumlahnya mencapai Rp 2,1 miliar dan 40.000 dollar Singapura.

Sementara Budi Satrio Djiwandono merupakan keponakan dari Ketua umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto. Dia mewakili daerah pemilihan Kalimantan Timur. Budi Satrio menggantikan Luther Kombong yang meninggal dunia di Singapura pada Juni lalu.(hardianto/balipost)

 

Sumber : Bali Post

Supadma Rudana Masuk 5 Besar

Penataran Pimpinan dan Kader Demokrat di Bogor
Hasil pelatihan gemilang, 14 kader Demokrat menerima penghargaan dari SBY. Peserta ujian termasuk Edhie Baskoro dan Ani Yudhoyono.
Denpasar, Nusa Bali. sebanyak 250 kader utama Partai Demokrat yang sudah mengikuti “Penataran Pimpinan dan Kader Demokrat” di Bogor, Jawa Barat, 29 Maret – 2 April 2016, diminta terjun ke daerah membagikan ilmunya di level bawah.

Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) DPP Demokrat Putu Supadma Rudana dihubungi Nusa Bali di sela-sela penutupan penataran pimpinan dan kader DPP Demokrat di Bogor, Jawa Barat, Sabtu (2/4), mengatakan penataran untuk kader Demokrat menginisiasi kader-kader utama tentang negara, pemerintahan, dan sistem nasional. Penataran itu melibatkan 60 anggota Fraksi Demokrat di DPR RI, dari unsur DPS provinsi 100 orang dan 90 pejabat utama DPP Demokrat.
:Hari ini (kemarin) sudah selesai dan penutupan. Ada 250 kader utama yang siap diterjunkan ke seluruh Indonesia untuk mengembangkan kekuatan Demokrat ke depan “ ucap Supadma Rudana, politisi asal Desa Peliatan, Kecamatan Ubud, Kabupaten Gianyar, ini.

Supadma Rudana mengatakan, penggemblengan 250 kader Demokrat tidak main-main. Ketua Umum DPP Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono langsung terjun menjadi pemateri. Ada juga para mantan menteri, mantan Kapolri, mantan ketua BIN, seperti mantan Sekrataris Kabinet Sudi Silalahi, mantan Mendiknas Mohammad Nuh, mantan Menko Polhukam Djoko Suyanto.

“Kader utama ini mendapatkan pendidikan dan disiapkan menjadi pemimpin. Ketika mereka nanti menjadi DPR, walikota/bupati atau menjadi menteri” ujar pria yang juga Ketua Umum Asosiasi Museum Indonesia ini.

Setelah enam hari mengikuti pelatihan, 250 kader Partai Demokrat (PD) mengikuti ujian tertulis. Ujian digelar di lokasi pelatihan di Novotel Hotel, Bogor, Jawa Barat, Jumat (2/4), dan berlangsung tertutup. SBY mengawasi jalannya ujian dari atas podium.
Seluruh kader yang mengikuti pelatihan sejak hari pertama wajib menjalani ujian. Termasuk Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas) dan istri SBY, Ani Yudhoyono.

Menurut pengakuan peserta ujian, soal-soal yang diberikan terbilang cukup sulit. Semuanya berkaitan dengan materi yang diberikan oleh para narasumber selama enam hari, sesuai tema pelatihan “Negara, Pemerintah dan Sistem Nasional”.
“Lumayan susah, basis bukan hanya sekadar pengetahuan dasar. Ada substansi perundang-undangan. Bukan hanya isu publik. Basis kemampuan orang dalam memahami sebuah persoalan, isu dan aturan “ujar Ketua DPP PD Didik Mukrianto, usai mengikuti ujian seperti dilansir detikcom.

Meski Didik duduk di kursi DPR, bukan berarti soal-soal tersebut mudah. Beruntung selama enam tahun bersama teman-teman satu partainya mendapat pelajaran dari narasumber yang adalah menteri-menteri pada zaman era SBY ketika menjadi presiden.
“Karena soalnya komprehensif, ada soal sosial, kesra, polhukam, ekonomi, semua ada. Termasuk hal dasarnya. Pengetahun ini menjadi keharusan buat semua politisi, khususnya teman-teman yang mau mengemban tugas di eksekutif, legislatif dan yudikatif “ tutur anggota Komisi III DPR itu.

Sementara itu elite PD lain yang juga mengikuti ujian, Ramadhan Pohan mengaku bisa menjawab soal-soal baik. Menurutnya, pelatihan ini sangat bermanfaat bagi para kader ketika nantinya ada yang menjadi pejabat negara.

“Ada peluang bagi kami untuk mengetahui bagaimana mengambil keputusan. Ketika menjadi anggota dewan, menteri, kepala daerah, apa saja yang harus diketahui. Ini dipandu dari materi “ ucap Pohan.

Setelah kader mengikuti ujian, hasilnya langsung dikoreksi oleh staf independen di luar partai. Tak berapa lama, hasilnya pun keluar. Bagi yang nilainya dibawah 60, SBY meminta agar mereka kembali mengulangi mengikuti ujian namun tidak langsung hari ini juga.

“Hanya 11 persen yang belum lulus. Itu akan dibawakan naskah ujian, kita tunggu tiga hari. Tolong di-email dikirimkan jawabannya. Lihat rujukan. Ingat kembali yang disampaikan narasumber, panelis “tutur SBY di lokasi yang sama.

“Yang lulus nilainya di atas 60 hingga 80. Yang di atas 80 memuaskan, kita ambil top 5 persen. Ada 14 yang mendapat penghargaan. Ini jauh lebih bagus dibanding pre test di hari pertama. Membuktikan seminggu ini ada gunanya dan besar menfaatnya “imbuh presiden ke 6 RI itu.

Adapun 14 kader yang mendapat hasil terbaik itu adalah Andi Timo, Roy Suryo, Rifai Darus, Edhie Baskoro (Ibas), Fandy Utomo, Putu Supadma Rudana, Ramadhan Pohan, Ni’matullah, Marwan Cik Asan, M. Rizky Oktavianur, Teuku Rifky Harsya, Johannes Kaoang, Zainul Aidi, dan Herman Khairon. Mereka menerima piagam penghargaan sekaligus sertifikat kelulusan dari SBY.

SBY mengaku senang dengan hasil dari pelatihan kader ini. Apalagi saat materi praktik, para kader diajari untuk mampu memiliki kualitas sebagai seorang pejabat negara. Seperti bagaimana menghadapi wartawan, berbicara serta berkampanye.

“Saya sangat senang, karena saya melihat semangat, gairah, kesungguhan dan semua yang diacarakan dilakukan dengan baik. Saya sebagai pemimpin bangga. Ini beginning untuk langkah ke depan. pada saatnya ini jadi modal daya saing yang luar biasa. Tolong dipedomani, dicamkan, diingat dan dijalankan “pesan SBY.

PD pun akan secara bertahap memberikan pelatihan seperti ini untuk kader-kader lainnya dengan target 5.000 kader selama lima tahun. SBY mengaku akan turun langsung memastikan untuk menggembleng agar PD memiliki kader-kader berkualitas.

“Ujian akhir tidak mungkin mengukur semuanya dari apa yang Anda dapatkan. Ini hanya salah satu. Kita bertekad PD jadi partai kuat, partai tengah, dan modern. Ini upaya nyata supaya kita terus berbenah diri dan meningkatkan kemampuan kita. Agar kita selalu siap “ tandas SBY.

Supadma Rudana, menegaskan, dalam pemaparan para mantan menteri yang jumlahnya sekitar 34 orang, itu ternyata banyak program pemerintahan SBY tidak berlanjut. Padahal banyak program yang bagus dan berkualitas. Era SBY, menurut Supadma Rudana, Indonesia menjadi negara dengan kekuatan ekonomi 20 besar dunia. “Jadi sangat kita sayangkan program-program SBY memimpin 10 tahun pemerintahan terputus begitu saja. Namun bagi kami, Demokrat akan tetap berjuang supaya program pro rakyat itu bisa terlaksana. Melalui perjuangan wakil rakyat dan kader-kader di eksekutif di daerah. Golden decade di 10 tahun pemerintahan SBY tidak boleh sirna begitu saja“tegas Supadma yang kemarin meraih posisi 5 besar dari 250 yang ikut pendidikan kader tersebut.

Sementara Putu Sudiarta dinyatakan lulus ujian. Menurut Putu Sudiartana, yang mengikuti tes sebanyak 241 orang. “Namun tidak semuanya lulus. Dari 241 orang, 26 orang tdak lulus. Ke 26 nama itu tidak disebutkan. Mereka akan mengikuti tes berikutnya sampai lulus. Bila tidak lulus-lulus, bisa menjadi catatan ketua umum “ucap anggota Komisi III DPR RI itu.

Bagi yang lulus, mendapat sertifikat dari SBY. Ketika disinggung apakah berbekal sertifikat itu, otomatis mereka menjadi calon eksekutif dari Partai Demokrat? Sudiartana menjelaskan, dalam mengusung calon untuk presiden, bupati/walikota maupun wakil bupati/wakil walikota, ada mekanisme secara internal melalui Badan Pemenangan Pemilu DPP Demokrat yang diketuai oleh Edhie Baskoro Yudhoyono atau biasa disapa Ibas.
“Walau punya sertifikat itu, tidak otomatis menjadi calon karena ada mekanismenya “ucap Sudiartana. Saat ditanya apakah dirinya akan maju sebagai calon di pilkada tingkat kabupaten/kota atau Provinsi Bali lantaran telah mengantongi sertifikat, Sudiartana menegaskan, semua kader harus punya mimpi.

“Menjadi politikus harus punya mimpi baik menjadi anggota DPR atau eksekutif di kota/kabupaten, provinsi atau presiden. Bohong kalau tidak ada mimpi. Jadi pengurus inti baik tingkat pusat dan daerah wajib tarung di tahun 2019 nanti” kata pria yang menjabat sebagai Wakil Bendahara Umum DPP Demokrat ini. (nat, k22.)

Sumber : NUSA BALI, 3 April 2016