Setiap memperingati hari bersejarah, bangsa Indonesia sesungguhnya memperoleh kesempatan untuk merenung ulang serta merefleksikan cita-cita luhur para founding fathers, pendiri negara ini.
Demikian pula berkenaan dengan tanggal 10 November ini. Peringatan Hari Pahlawan adalah memang suatu momen berharga bagi kita guna memaknai kegigihan, integritas, komitmen dan kecintaan atas negeri ini, dimana pada era revolusi dulu terwujud sebagai gelora kebersamaan untuk meraih kemerdekaan sekaligus mengukuhkan keberadaan NKRI.
Para pejuang pendiri negeri ini telah mendarmabaktikan hidupnya dengan segenap ketulusan serta semangat pantang menyerah. Dengan meresapi, menghayati serta merefleksikan nilai-nilai luhur warisan para patriot bangsa itu, kita, sebagai generasi penerus, akan memperoleh karunia energi kebersamaan yang kreatif sekaligus produktif.
Semangat kerbersamaan atau ‘Bersama Kita Bisa’ itu dapat mendorong kita untuk meraih capaian prestasi setinggi-tingginya di bidang masing-masing. Semangat itu pula yang akan memungkinkan lahirnya ‘pahlawan-pahlawan’ era kini, yang berjuang sepenuh pengabdian tanpa pamrih untuk kejayaan, kemakmuran dan keutuhan NKRI.
Dalam kebhinekaan dan keanekaragaman kultur negeri ini, mari kita satukan tekad mewujudkan cita-cita bangsa sebagaimana termaktub dalam Mukadimah UUD 1945.

Tujuh tokoh spiritual Bali, yakni Ida Pedanda Gede Ketewel Kemenuh, Ida Pedanda Gede Made Gunung, Ida Pandita Mpu Nabe Parama Daksa Natha Ratu Bagus, Merta Ada, dr. Gede Kamajaya, Kadek Suambara, serta Prabu Darmayasa, Jumat (5/11) lalu memperoleh penganugerahan Angkus Prana dari Museum Rudana, Peliatan, Ubud.
Doa bagi Nusantara dilantunkan dengan keheningan dan kebeningan hati di Museum Rudana, Minggu (7/11) lalu serangkaian acara penutupan Bali Yoga Festival yang berlangsung sejak 5 November lalu.
Prasasti Angkus Prana tidak hanya dapat dimaknai sebagai wujud persembahan, melainkan juga cerminan doa bersama untuk menyatukan berbagai prana atau unsur kehidupan yang hakiki guna mewujudkan pulau Bali yang lestari serta penuh dengan toleransi. Prasasti ini bukan hanya berdimensi masa kini, melainkan juga memiliki nilai-nilai pencerahan bagi generasi mendatang. Terukir dalam prasasti tersebut renungan Putu Supadma Rudana: Sebuah pesamuan kebersamaan kita dalam doa, puja dan bakti kepada Sang Maha Agung.
Angkus Prana dipetik dari Bahasa Sansekerta yang merujuk pada kisah Mahabarata yang menceritakan tentang bagaimana kepahlawanan Sang Bima, putra Pandu, yang menjunjung di bahunya keempat saudara beserta ibunda tercinta, Kunti, guna menghindari marabahaya berupa jebakan kobaran api yang direncanakan secara licik oleh Para Korawa. Terkandung dalam peristiwa ini, sebuah nilai-nilai filosofis luhur tentang kebersamaan dalam keselarasaan dan keharmonian, serta nilai-nilai kepahlawanan yang hakiki.
Panggung setinggi pinggang orang dewasa berdiri di depan Museum Rudana, Ubud, Gianyar, Bali. Patung Sang Hyang Basuki dan Taksaka mengapit panggung yang dipayungi pohon jepun. Malam menjelang, dua naga penjaga bumi Bali itu memberi nuansa mistis.