Category: Cermin Budaya

Melalui Museum, Sinergi Seni Membangun Bangsa

MELALUI MUSEUM, SINERGI SENI MEMBANGUN BANGSA
Sebuah Catatan tentang Visit Museum Year 2010
Oleh Putu Supadma Rudana, MBA*)

Bagaimanakah kita seharusnya memaknai pencanangan Tahun Kunjungan Museum 2010 (Visit Museum Year 2010)? Tentu jawabannya terpulang pada masing-masing pihak, sesuai dengan profesi, kepentingan, serta latar sosial-budaya yang bersangkutan. Namun sesuatu hal yang tak bisa disangkal, penetapan museum sebagai fokus program sekaligus branding acuan jelaslah menunjukkan bahwa pemerintah secara keseluruhan, tak terkecuali Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, menyadari peran strategis yang dapat disandang oleh museum, baik swasta maupun negeri.

Di sisi lain, patut dikemukakan, penetapan Tahun Kunjungan Museum 2010, merefleksikan pula kesadaran dari pengambil kebijakan bahwa museum hakikatnya bukan semata gedung tempat penyimpanan hasil-hasil kreativitas warisan leluhur atau peninggalan purbakala maupun arsip-arsip dokumentasi masa silam, melainkan memiliki tawaran akan nilai-nilai universal yang terkait kekinian serta berguna untuk turut merumuskan masa depan. Terlebih lagi, bila kita sedia mengkaji tentang adanya kenyataan bahwa Indonesia adalah sebuah republik yang masyarakatnya majemuk, multietnis dan multikultur, serta tengah menghadapi dinamika percepatan perubahan sebagai akibat hadirnya nilai-nilai global, buah dari kemajuan teknologi informatika yang nan canggih itu.

Dengan kata lain, Indonesia yang memiliki letak yang strategis antara dua benua, Asia dan Australia, serta dua samudera, Hindia dan Pasifik, menghadapi tantangan ke depan yang memerlukan suatu pola penanganan yang holistik berlandaskan kerja sama semua pihak tanpa terkecuali. Upaya mengatasi problematik bangsa ini, memang bukan hanya tugas Presiden sebagai eksekutif beserta jajaran pemerintahnya, akan tetapi juga merupakan tanggung jawab anggota legislatif, yudikatif dan, terkait di dalamnya, para profesional aneka bidang, serta tak ketinggalan masyarakat umum lainnya. Dalam konteks ini, sebagaimana berulang saya kemukakan dan juga wujudkan melalui berbagai kesempatan serta kegiatan, perlu dikedepankan oleh semua pihak suatu upaya sinergi menuju kesempurnaan. Bahkan dalam tataran tertentu, berlandaskan niat baik, saya percaya dengan upaya sinergi tersebut segala hal yang kelihatannya bertolakbelakang dapat di-manage untuk saling dukung dan saling topang.

Museum: Sinergi Seni Membangun Bangsa

Sebagaimana sekilas diulas di atas, peran museum, terlebih di era kompetisi global seperti sekarang ini, sungguh sangat strategis. Tidak seperti yang selama ini dibayangkan oleh sebagian masyarakat awam, museum terbukti dapat difungsikan sebagai laboratorium kebudayaan, di mana para ahli, pakar aneka bidang dan juga generasi muda dapat mengembangkan ide-ide kreatif dan gagasan-gagasan cerdasnya berdasarkan suatu telaah yang lebih mendalam terhadap apa yang telah dicapai para leluhur melalui karya-karya berupa apapun yang tersimpan di dalam museum. Saya kira adalah suatu yang tidak berlebihan bila dalam Diskusi dan Komunikasi Museum Indonesia serta Musyawarah Asosiasi Museum Indonesia di Jambi belum lama ini, mengemuka suatu dialog tentang layaknya menjadikan museum beserta organisasi pengelolanya menjadi semacam center of excellent. Yakni, semacam laboratorium yang memungkinkan para ahli untuk melakukan suatu kajian dan program akademis secara tepat guna dan tepat makna, guna mengembangkan pemikiran atau menghasilkan kreasi-kreasi inovatif yang bermanfaat bagi pembangunan bangsa, baik itu tataran filosofis maupun tataran praksis.

Mencermati hal tersebut, sebagaimana juga apresiasi masyarakat dan pemerintah di mancanegara terhadap keberadaan museum, seyogyanya kita melakukan upaya-upaya terpadu dan terkoordinasi untuk mendorong peningkatan profesionalisme di kalangan pekerja dan pengelola lembaga ini. Belajar dari luar, terlihat benar bahwa tumbuhnya apresiasi dan penghargaan publik selalu sejalan dengan capain pihak museum untuk meningkatkan pengelolaan dan fasilitasnya serta penyempurnaan koleksinya dengan dukungan segala data berikut fakta-fakta sejarah yang teruji. Tentu saja, Asosiasi Museum Indonesia (AMI) beserta anggotanya, dalam hal ini HIMUSBA Bali, perlu menyamakan visi, misi serta persepsi, dalam menyongsong Tahun Kunjungan Museum 2010. Masing-masing selayaknya terpanggil untuk mengadakan pembenahan menyeluruh serta pencanangan program yang saling sinergi seraya menyadari bahwa museum juga merupakan salah satu sarana pembangunan karakter dan pekerti bangsa (nation and character building).

Boleh dikata, jauh sebelum pemerintah mencanangkan Tahun Kunjungan Museum 2010, Museum Rudana telah berulang mengadakan event-event seni budaya yang menegaskan bahwa museum dapat pula menjadi wadah aktivitas yang turut menggelorakan upaya-upaya pencapaian seni yang bersemangat kekinian tanpa hafrus tercerabut dari akar kultur warisan para leluhur. Bahkan lebih jauh dari itu, saya juga menggagas diadakannya suatu lomba esai, ditujukan untuk generasi muda, bertopik “Harapan Masyarakat Terhadap Pemimpin Masa Depan Indonesia”. Di luar dugaan, lomba ini disambut antusias oleh generasi muda, diikuti oleh lebih kurang dari 1.000 peserta, mewakili anak-anak muda pelajar serta mahasiswa serta umum lainnya yang mencoba berpikir cerdas dan kritis tentang bagaimana dan akan kemana nasib negara ini kelak di kemudian hari. Kegiatan tersebut juga dilanjutkan dengan acara malam apresiasi seni yang diadakan tiga malam berturut-turut, menyajikan aneka kreatifitas; dari teater, dramatisasi dan pembacaan puisi, musik serta film pendek kreasi anak muda. Hal mana itu menunjukkan bahwa melalui museum dapat diperjuangkan suatu sinergi seni untuk membangun bangsa.

Secara lebih fokus dan khusus, dengan menimbang bahwa museum bisa menjadi center of excellent serta laboratorium kebudayaan seperti disinggung di awal tulisan ini, sinergi seni tersebut patut diketengahkan dalam wujud program-program nyata yang lebih terarah dan berkelanjutan guna mendorong upaya-upaya pembentukan karakter dan watak bangsa. Sebab hanya negara yang telah menemukan jati dirinya serta kuasa mengukuhkan nation and character building-nya, berpeluang untuk unggul dalam persaingan global. Dengan demikian, sudah tidak pada tempatnya lagi di era demokratis ini untuk melakukan dikotomi antara berbagai kepentingan dan idealisme atas nama apapun. Bahkan dalam titik kesadaran tertentu, saya dengan sungguh-sungguh mencoba mewujudkan apa yang menjadi keyakinan hidup yakni the art of business in the business of art (seni berbisnis dalam bisnis seni), serta the art of excellent, atau seni kesempurnaan, di mana kita tidak puas hanya sekadar menjadi mediocre (setengah-setengah saja).

Melalui museum, beserta koleksi adiluhungnya, kita dapat mempelajari keagungan masa silam seraya menggagas kemungkinan masa depan tanpa lalai atau abai pada upaya menyikapi dan memaknai kekinian secara lebih kreatif. Saya yakin, melalui Tahun Kunjungan Museum 2010, secara pasti akhirnya Indonesiaakan menjadi the heart of Asia and heart of the world.

Selamat berjuang dan selamat bersinergi!

*) Penulis adalah salah satu Ketua Asosiasi Museum Indonesia (AMI)
Tulisan ini telah dimuat di Majalah Musea edisi 2009

Putu Rudana Menggelar Renungan Kemerdekaan dan Bedah Buku di Monas

[JOURNALBALI.COM – Jakarta] Bila rakyat seantero negeri merayakan hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-65 dengan mengadakan aneka lomba dan menampilkan kesenian, Putu Supadma Rudana boleh jadi melengkapinya dengan membuat acara renungan suci di Ruang Kemerdekaan, tugu Monumen Nasional (Monas) di jantung kota Jakarta pada 18 Agustus yang lalu. Renungan suci yang diselenggarakan dengan khidmat dipimpin oleh Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD-RI) Irman Gusman dihadiri antara lain oleh pendiri Museum Rudana, Nyoman Rudana, Kepala UPT Monas Rini Haryani, pejabat Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI Jakarta, budayawan, seniman dan aktivis pemuda.

Menurut Irman Gusman, pada momen peringatan kemerdekaan setiap anak bangsa perlu bahu membahu bekerjasama dalam mewujudkan Indonesia yang lebih baik. Ia mendukung usaha Putu Supadma Rudana dalam mendorong ekonomi kreatif di tanah air, khususnya dalam olah cipta seni dan budaya. “Kita mempunyai tari Minang, tari Jawa, tari Bali dan lain sebagainya. Inilah warisan anak bangsa yang perlu dilestarikan,” kata Irman Gusman.

Pada kesempatan itu pula Putu Rudana menyampaikan refleksi pemikirannya atas kemerdekaan RI yang ke-65. Menurut Putu Rudana keberlangsungan Indonesia tidak bisa dilepaskan dari kreativitas dalam seni dan budaya. “Jika kita menyadari potensi seni budaya Indonesia, kita akan tampil penuh percaya diri di tengah bangsa-bangsa lain di dunia. Pada saat ini kita membutuhkan sinergi dan visi yang sempurna dalam mengembangkan seni budaya sebagai jiwa bangsaa,” ujar Putu Rudana, yang juga sebagai penggagas dan ketua Destar, Pusat Penelitian dan Dokumentasi Seni dan Budaya, yang juga General Manager Rudana Museum, Bali ini.

Setelah diselingi acara buka puasa bersama, dilanjutkan dengan acara membedah buku ‘Menuju Visi Sempurna, Seni Budaya Sebagai Jiwa Bangsa’, dipandu penyair Warih Wisatsana yang menampilkan pembicara Ni Made Purnamasari sebagai editor buku, Dody Achmad Fauzi, editor majalah Arti dan Dwi Sutarjantono (editor majalah Esquire Indonesia). Buku yang diterbitkan di awal tahun 2009 ini, merangkum gagasan serta pandangan Putu Rudana yang pernah tertuang dalam wawancara di beberapa media lokal, nasional maupun internasional, serta mengulas berbagai sisi kehidupan kesenian dan kebudayaan kita.

Dimulai dari karya lukis, tantangan kepariwisataan Indonesia, program Tahun Kunjungan Museum, pandangannya mengenai generasi muda serta masa depan bangsa, hingga berbagai kegiatan kebudayaan yang digagasnya dengan semangat sinergi antara seni budaya dengan beragam bidang kehidupan, semisal otomotif, olahraga, ekonomi, politik dan sebagainya; yang kesemuanya bermuara pada upaya Pembangunan Karakter dan Pekerti Bangsa (Nation and Character Building).

Pada sesi tanya jawab banyak peserta bedah buku yang berharap Putu Rudana dapat mengimplementasikan gagasan tentang ekonomi kreatif yang sangat relevan dengan situasi Indonesia terkini. Para peserta juga berharap Putu Rudana menerbitkan buku berikutnya yang dapat memberi inspirasi kaum muda. [ ska ]

Memaknai Seni Budaya sebagai Jiwa Bangsa: Renungan Budaya di Monumen Nasional

image009Memaknai perayaan kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-65, pada Rabu malam (18/08) diadakan sebuah acara Renungan Kemerdekaan di Monumen Nasional, Jakarta.

Selain para pemerhati maupun penggiat seni-budaya serta berbagai kalangan yang mewakili aneka lapisan masyarakat, dalam acara yang diselenggarakan oleh Pusat Penelitian, Pengkajian dan Dokumentasi Budaya ‘DESTAR’ ini, hadir pula Ketua DPD-RI, Irman Gusman, yang memberikan pengantar renungan perihal makna kemerdekaan dalam berbagai perspektifnya terkait upaya-upaya untuk mewujudkan cita-cita luhur bangsa sebagaimana yang diamanatkan dalam mukadimah UUD 1945.

Putu Supadma Rudana, pendiri ‘DESTAR’ sekaligus penggagas acara Renungan Kemerdekaan ini, mengungkapkan bahwa kegiatan ini merupakan upaya untuk merenungkan makna terdalam dari hari kemerdekaan, sekaligus dimaksudkan pula sebagai wahana menghormati jasa-jasa para pendiri bangsa (founding fathers), di mana pikiran-pikirannya yang visioner serta pengabdian mereka yang tulus, terbukti telah mengantar bangsa Indonesia ke pintu gerbang kemerdekaan, tegak berdiri sebagai bangsa yang berdaulat dan sejajar dengan bangsa-bangsa lain di dunia. “Melalui acara renungan ini, saya pribadi berharap generasi penerus bangsa dapat belajar dari kepeloporan para founding fathers guna memaknai secara lebih mendalam warisan sejarah beserta nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya. Proklamasi kemerdekaan kita mengandung nilai-nilai historis yang dapat menjadi acuan dan cerminan bagi generasi penerus guna mengisi kemerdekaan dengan pembangunan nyata di segala bidang serta secara terus menerus mempertahankan dan memajukan NKRI sebagaimana yang kita cita-citakan bersama,” ujar Putu Rudana yang juga Ketua IV Asosiasi Museum Indonesia yang membidangi Informasi, Publikasi dan Komunikasi.

Dalam pengantar renungannya yang diselenggarakan di Ruang Kemerdekaan, tepatnya di bawah lambang negara burung garuda, Ketua DPD-RI Irman Gusman menyatakan salut dan pujiannya kepada pemrakarsa kegiatan ini yang secara visioner telah memaknai kemerdekaan dengan penuh hikmah melalui suatu acara yang tidak hanya bersifat simbolis, tetapi juga berisi dialog yang melibatkan segenap komponen masyarakat guna memperjuangkan seni budaya sebagai jiwa bangsa. Ia menyatakan bahwa diharapkan ke depan tampil generasi-generasi muda yang unggul di segala bidang yang terpanggil untuk turut mendarmabaktikan idealismenya guna membangun bangsa Indonesia menuju masyarakat yang adil dan makmur.

image010Sebagai rangkaian dari acara perenungan di Ruang Kemerdekaan, diadakan pula dialog bertemakan ‘Seni Budaya sebagai Jiwa Bangsa’ di Museum Sejarah Nasional di Monumen Nasional, menghadirkan dua pemerhati masalah sosial budaya dan media, yakni Doddi A. Fauzi dan Dwi Sutarjantono, sebagai pembicara. Dialog budaya ini menampilkan pula Ni Made Purnamasari, editor buku ‘Menuju Visi Sempurna’. Adapun buku setebal 313 halaman dan diterbitkan oleh Yayasan Seni Rudana, yang juga telah diluncurkan pada awal tahun 2009 di Museum Rudana, merupakan rangkuman esai-esai terpilih juga wawancara-wawancara Putu Supadma Rudana dengan berbagai media, di mana pokok-pokok pikirannya mencerminkan kepedulian sosok penggiat budaya ini tentang pentingnya upaya sinergi budaya dengan bidang-bidang lain guna turut membangun karakter dan pekerti bangsa (nation and character building).

“Bangsa Indonesia memiliki budaya yang luar biasa, di mana di dalamnya terdapat berbagai suku bangsa dengan beragam adat-istiadat, bahasa, agama serta kesenian yang beraneka. Ini boleh dikata merupakan sosial capital yang paling berharga, yang perlu kita pahami dan dikelola secara terpadu, selaras dengan semangat untuk mencintai, menjiwai serta menggaungkan budaya bangsa,” tambah Putu Rudana yang kerap menggelar acara seni-budaya, semisal Pameran ‘Sinergi Seni Membangun Indonesia’ yang menghadirkan maestro seni lukis Indonesia Srihadi Soedarsono, Made Wianta dan Nyoman Gunarsa.

Putu Rudana juga menyampaikan bahwa untuk mencapai dan mewujudkan cita-cita luhur bangsa, baiknya semua pihak bekerjasama menggaungkan kecintaan pada tanah air serta berupaya membentuk pribadi-pribadi unggul melalui penerapan nilai-nilai budaya yang diwariskan oleh para leluhur bangsa.

“Untuk itu, kebudayaan harus bersinergi dengan berbagai bidang kehidupan, di mana nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya dapat menjadi perekat persatuan dan kesatuan bangsa. Selain itu, budaya harus membentuk karakter bangsa yang kokoh, berkepribadian nasional dan bertahan terhadap kemerosotan akhlak,” ungkapnya.

Ia menambahkan, kebudayaan juga mesti menjadi benteng moral bangsa, senantiasa menjunjung tinggi agama dan norma, sekaligus menjadi cerminan puncak-puncak kebudayaan seluruh unsur masyarakat daerah. Budaya harus pula berperan menjaga integritas bangsa, di mana kejujuran diutamakan, menjadi benteng kukuh yang kuasa menepis pengaruh koruptif dan destruktif baik yang berasal dari dalam maupun luar negeri. Di samping itu, hendaknya upaya pembangunan seni budaya nasional mengedepankan asas keadilan, yakni penghormatan kepada keunikan dan kekhasan dari budaya-budaya daerah serta mendorong terciptanya suatu kerjasama antarseni-budaya yang mampu melahirkan bentuk-bentuk kebudayaan dan ekspresi-ekspresi baru kesenian yang mencerminkan semangat Bhinneka Tunggal Ika dari bangsa yang besar ini.

Pada kegiatan yang dihadiri oleh Anggota DPR-RI Theresia EE Pardede, Perwakilan Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta, serta Kepala Unit Pengelola Monumen Nasional IM Rini Hariyani ini,diselenggarakan penganugerahan secara simbolis Satya Synergy Award dari Nyoman Rudana dari Museum Rudana kepada media-media massa di Nusantara yang selama ini telah membuktikan dedikasinya terhadap perkembangan seni-budaya bangsa melalui penyebaran informasi tentang keanekaragaman kekayaan budaya Indonesia. Award ini diterima oleh Dwi Sutarjantono (Majalah Esquire) sebagai perwakilan dari media-media massa.

“Penghargaan ini sebagai penghormatan atas dedikasi serta peran media yang selama ini selalu terbuka menjalin kerjasama guna menyebarkan informasi-informasi positif terkait kekayaan-kekayaan adat istiadan di Nusantara. Peran media memang sangat strategis, terutama membantu masyarakat untuk memperkaya wawasan, pengetahuan serta kecintaannya pada bangsa, tanah air dan kebudayaan negeri ini. Melalui malam renungan inilah, upaya-upaya sinergi kreatif semacam ini dapat dikembangkan di kemudian hari agar potensi-potensi anak bangsa di segala bidang dapat tumbuh berkembang secara optimal sebagaimana yang kita harapkan,” ujar Putu Rudana.

Visit Museum Fiesta di Museum Rudana

Sumber: Denpost, Sabtu, 29 Mei 2010

Lomba mewarnai, menggambar, kartun dan karikatur, kerjasama KMB dengan Museum Rudana yang bertajuk “Visit Museum Fiesta @ Museum Rudana” berlangsung Minggu (30/5) besok. Kegiatan tersebut, Kamis (27/5) dipaparkan oleh manajemen Museum Rudana yang dipimpin direkturnya, Nyoman Rudana, saat masimakrama dengan Pimpinan Kelompok Media Bali Post (KMB) Satria Naradha di Gedung Pers Bali K. Nadha.

Dalam kesempatan itu, Rudana didampingi Penasihat Museum Rudana yakni Nyoman Muka, kurator Museum Rudana, Bundhowi, serta Ketua IV Asosiasi Museum Indonesia, Putu Supadma Rudana, MBA.

Lomba yang bertema “Museum, Generasi Muda dan Masa Depan Bangsa” ini dipastikan berlangsung meriah karena diisi dengan berbagai kegiatan, di antaranya kesenian barong ngelawang, penyembuhan alternatif (tenaga prana) bersama Bali Dharma Laksana Foundation dengan nabe I Wayan Kawi, S.Pd., kuis berhadiah menarik untuk orangtua anak-anak serta kegiatan unik lainnya.

Menurut salah seorang panitia, IB Wirawan, panitia masih membuka pendaftaran peserta lomba sebelum acara dimulai yakni pukul 09.00. “Kegiatan ini bertujuan menyukseskan program Visit Museum Year 2010. Kami berharap, selain berlomba, para peserta terutama anak-anak juga memahami arti penting museum,” tegasnya.

Sedangkan Ketua IV Asosiasi Museum Indonesia (AMI), Putu Supadma Rudana, MBA., menyambut baik acara lomba tersebut karena merupakan sinergi antara museum dengan media massa dalam memajukan permuseuman di Indonesia. Selain paham mengenai teknik menggambar, para peserta lomba juga bisa menyaksikan koleksi penting di Museum Rudana.

Panca Tan Matra Kolaborasi Kreatif Suara, Rupa dan Kata

Melalui seni, kita bersentuhan dengan keindahan. Bahkan lebih jauh lagi, melalui seni pula, dengan beragam ekspresi dan bentuknya, terbuka kemungkinan seseorang memahami hakikat jati dirinya, entah itu sebagai individu yang soliter, ataukah sosok pribadi yang solider. Tak berhenti hanya sampai di situ, di segenap penjuru Nusantara termasuk juga di dalamnya, Bali, hingga sekarang ini, ritual sosial dan keagamaan tak terpisahkan dari laku kreatif berkesenian. Demikian juga sebaliknya, tak sedikit seniman meyakini bahwa karya-karya dan proses kreatifnya adalah suatu prosesi persembahan.

Mengacu pada visi Museum Rudana di atas, maka digelarlah acara sinergi seni yang menghadirkan seniman-seniman terpilih dari musik, tari, rupa, dan sastra. Masing-masing bidang tersebut dipadukan dalam suatu kesatuan ekspresi yang diharapkan tampil utuh secara keseluruhan, sekaligus merespon konsep yang sejak awal telah ditetapkan. Pertunjukan yang diselenggarakan pada Rabu, 13 Oktober 2010 ini boleh dikata adalah sebuah kolaborasi kreatif yang berupaya mengelaborasi acuan nilai-nilai filosofis, merupakan warisan leluhur, yakni segugusan pengertian yang terkandung dalam apa yang disebut Panca Tan Matra.

Dalam telaah paling mendasar, Panca Tan Matra[1] adalah lima anasir awal / sari inti yang bersifat hakiki, yang keberadaannya tak terpisahkan dari terjadinya penciptaan (Srsti), meliputi bhuwana agung atau makrokosmos, serta bhuwana alit atau mikrokosmos. Dengan demikian, kolaborasi kreatif ini mengandaikan bidang-bidang seni yang bersinergi adalah refleksi dari lima sari inti tersebut, di mana proses dan hasil akhirnya diharapkan mencerminkan keselarasan serta keharmonian, sebagaimana penciptaan jagat raya beserta isinya.

Layak diungkap, setiap upaya mensinergikan berbagai bidang seni, selalu melalui tahapan-tahapan yang memerlukan kesabaran, menuntut pihak-pihak yang terlibat untuk bersedia membuka diri; mendiskusikan aneka kemungkinan kreatif seraya mencermati potensi masing-masing dan mengeksplorasinya secara terukur serta terarah. Sebagai penggagas kolaborasi kreatif ini, saya pribadi berbahagia dapat mewujudkannya, terlebih lagi figur-figur yang bersedia bekerjasama adalah seniman-seniman mumpuni, yang tidak hanya bereputasi nasional, melainkan juga internasional. Untuk itu, terimakasih tak berhingga saya sampaikan kepada musikus penuh dedikasi Dwiki Dharmawan beserta rekan-rekan, koreografer Nyoman Sura, musikus Nyoman Winda, perupa Wayan Darmika, Ida Bagus Indra, serta penyair Warih Wisatsana. Demikian pula halnya, ucapan salut dan terimakasih saya tujukan kepada musikus Brazil tersohor, Toninho Horta, yang telah mengkhususkan waktunya guna berekspresi di Museum Rudana; berikut pihak-pihak terkait lainnya yang memungkinkan terwujudnya peristiwa kesenian bertajuk:

Panca Tan Matra Kolaborasi Kreatif Suara, Rupa dan Kata

Sinergi seni ini bukan semata kolaborasi kreatif yang mengekspresikan sentuhan keindahan, akan tetapi ditujukan pula sebagai sarana mempererat jalinan persahabatan dan persaudaraan kita, melampaui perbedaan sosial, budaya serta bangsa. Secara khusus, saya pribadi mendedikasikan acara ini kepada Putu Pageh Yasa (43) yang belum lama ini berpulang. Sebagai seorang pelukis, yang bersangkutan telah mempersembahkan hidupnya untuk menghasilkan karya-karya yang terpujikan.

Keseluruhan peristiwa, sebagaimana terurai di atas, mulai dari penyusunan konsep hingga rangkaian acara paripurna, semoga meyakinkan kita bahwa pada dasarnya setiap mereka yang hadir, termasuk semua undangan, adalah bagian yang tak terpisahkan dari proses Penciptaan ini; dari yang seluruh (terpisah) menuju yang utuh, yang boleh jadi selaras dengan makna semangat Bhinneka Tunggal Ika, walau berbeda-beda, tetap satu jua.

Salam,
Putu Supadma Rudana, MBA.

________________________________________
[1] Panca Tan Matra terdiri dari sabda tan matra (sari suara), rasa tan matra (sari rasa), sparsa tan matra (sari rabaan), rupa tan matra (sari warna), ganda tan matra (sari aroma).

Kesadaran Budaya Penting Ditumbuhkan

Salah Satu Upaya Ajak Anak ke Museum
Sumber : Bali Post, 8 Januari 2010

Anak-anak penting terus ditumbuhkan kesadaran budayanya. Kesadaran itu bisa ditumbuhkan di rumah, melalui sekolah dan sebagainya. Salah satu upaya untuk menumbuhkan kesadaran budaya itu yaitu dengan mengajak anak-anak ke museum. Demikian antara lain dikatakan Dekan Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) Institut Teknologi Bandung (ITB), Prof. Dr. Biranul Anas Zaman ditemui saat berkunjung ke ISI Denpasar bersama rombongan dosen, Kamis (7/1) kemarin.

Dikatakannya, kunjungan ke ISI Denpasar karena beberapa alasan, di antaranya posisi ISI Denpasar berada pada khazanah budaya yang kaya dan terkenal, baik di Indonesia maupun di mancanegara. Pihak FSRD ITB ingin menjalin kerjasama dalam rangka pertukaran pengetahuan (akademik). Dengan demikian kedua lembaga mendapat manfaat dalam rangka pengembangan diri ke depan.

Didampingi dosen FSRD ISI Denpasar, Made Rinu, PR I ISI Ketut Murdana dan PR III Nyoman Subrata, Prof. Biranul mengatakan, dengan diperkenalkan kekayaan seni budaya Indonesia lewat mata pelajaran di sekolah, kesadaran budaya anak-anak diharapkan semakin tumbuh. Guru-guru kesenian juga penting terus ditingkatkan kualifikasinya. “Jangan ragu-ragu menggunakan doctor untuk mengajar anak SD. Banyak sekolah di negara maju, kepala sekolahnya bergelar doctor, demikian juga guru keseniannya. Itu penting untuk menanamkan kebanggaan terhadap visi kebudayaan yang hanya dapat diartikulasikan oleh orang yang paham betul tentang hal itu, “ katanya.

Anak-anak Indonesia, terlebih para seniman mesti memiliki kesadaran budaya. “Di samping itu, seniman juga mesti memiliki ilmu pengetahuan, tak hanya menyangkut seni budaya juga pengetahuan lain,” tambahnya.

Tak kalah pentingnya, seniman mesti memiliki sense of quality (kepekaan mutu). Jika memiliki kepekaan mutu yang tinggi, mereka akan menjadi sosok seniman yang siap bersaing. Untuk menjadi seniman yang bermutu, tentu memerlukan proses.
Di sisi lain, Prof. Biranul Anas Zaman mengatakan, seni rupa Indonesia sesungguhnya telah mendunia. Dari sejak masa lalu hingga kini berbagai macam seni sudah dikenal oleh masyarakat dunia. Karena itu, agar seni rupa Indonesia lebih dikenal, seniman-seniman Indonesia mesti terus mengasah diri dengan belajar dan belajar. Dalam menghadapi situasi persaingan global yang begitu tajam, tidak ada jalan lain kecuali belajar secara formal. Dengan belajar secara akademik, dalam waktu singkat mereka mengalami lompatan ilmu pengetahuan yang amat memadai. Dengan demikian, mereka akan dapat melompat menjadi seniman yang lebih mendunia.

Di samping itu, promosi seni rupa perlu lebih digencarkan lagi ke segala arah. Mutu seni rupa kita luar biasa, tradisi dan sejarah kita begitu panjang. “Banyak orang di dunia belum tahu hal itu. Itu senantiasa harus disegarkan, karena negara lain juga melirik apa yang kita punya untuk dijadikan milik atau identitas mereka.”, terangnya. (lun)

Supaya Tetap Eksis, Perlu Reinterpretasi Museum

Sumber : Denpost, Rabu, 6 Januari 2010

Tantangan pengembangan Museum di era global menjadi perbincangan menarik dalam sarasehan terbuka di Museum Seni Lukis Klasik Nyoman Gunarsa, Klungkung, Selasa (5/1) kemarin serangkaian penganugerahan Pers K. Nadha Nugraha. Dalam sarasehan terungkap mengenai pentingnya upaya reinterpretasi museum agar kehadirannya tetap eksis dalam dinamika zaman. Pihak pengelola museum juga dituntut menonjolkan keunikan koleksi dan fisik, selain memperhatikan masalah kuratorial dan restorasi.

Pada sarasehan kemarin dihadirkan dua narasumber yakni Pande Wayan Suteja Neka, pemilik museum Neka, Ubud, dan Dekan Fakultas Sastra Unud, Prof.Dr. I Wayan Ardika, M.A.

Acara berlangsung dengan hangat dengan moderator Wayan Kun Adnyana, seniman yang juga dosen Seni Rupa ISI Denpasar.
Suteja Neka memaparkan topik “Untuk Apa Museum Dibangun?”, sedangkan Ardika mengulas museum sebagai pembentuk karakter bangsa.

Dalam sesi diskusi, budayawan Prof. Dr. Made Bandem yang hadir dalam kesempatan itu mengomentari masalah pengelolaan museum yang dikelompokkan menjadi tiga. Pertama, pentingnya upaya reinterpretasi, kedua soal keunikan koleksi dan fisik, dan ketiga tentang kuratorial dan restorasi.

“Masyarakat saat ini masih menganggap museum sebagai gudang barang-barang antik dan kuno, sehingga kebanyakan orang masih memilih datang ke galeri untuk menikmati karya seni. Karenanya, manajerial museum sangat penting untuk menghidupkan kembali koleksi yang dimiliki,” papar mantan Rektor ISI Yogyakarta tersebut.

Karenanya, Bandem menganggap upaya reinterpretasi sebagai kebutuhan mutlak bagi pengelola museum. Hal ini, kata dia, bisa dilakukan dengan mengadakan diskusi secara berkala sehingga berkesempatan menjelaskan kembali soal koleksi yang dimiliki museum tersebut. Selanjutnya, untuk menarik perhatian masyarakat penonjolan keunikan museum dengan ikon tertentu juga sangat dibutuhkan. Dicontohkan Bandem, dengan lukisan “Monalisa” karya Leonardo da Vinci yang telah menjadi ikon dari museum di Eropa. Kendati koleksi lain di museum itu sama bernilai, karya itu menjadi daya tarik untuk kedatangan para pengunjung. Sedangkan soal koratorial dan restorasi akan menjaga kesegaran koleksi museum. Seperti museum yang punya banyak koleksi hendaknya bisa menyajikan koleksinya secara bergiliran sehingga memberikan kesan yang baru.
Sebelumnya, Prof. Ardika juga menekankan pentingnya unsur kebaruan dalam sebuah museum kendati koleksinya benda-benda masa lampau. “Untuk pengembangan museum, mesti memperhatikan perkembangan masa kini, diikuti oleh penataan yang menarik, serta diperlukan pemanfaatan informasi teknologi,” papar Ardika.

Benda-benda koleksi museum juga perlu dirawat dengan penataan menarik.

Terkait kunjungan generasi muda ke museum, Ardika mengharapkan dilakukan rekayasa budaya dengan mengagendakan kedatangan pelajar ke museum secara berkala.

Museum sama dengan masa lalu yang sangat penting sebagai cermin atau refleksi di kehidupan masa sekarang. Diibaratkan masa lalu tersebut sebagai akar yang tidak boleh dilupakan dengan fungsi penting yang dimiliki dalam kelangsungan kehidupan dan sebagai jati diri bangsa.

Salah seorang pelajar yang hadir dalam sarasehan, Novi, sempat mengungkapkan pesimismenya dengan harapan kunjungan generasi muda ke museum. Pasalnya, untuk mendapatkan informasi apa pun sangat mudah diakses melalui internet tanpa mesti berkeringat turun ke lapangan. Hal ini segera ditanggapi Ardika sebagai suatu tantangan bagi pengelola museum agar bisa semakin dicintai masyarakat khususnya generasi muda.

Sedangkan Pande Wayan Suteja Neka banyak memaparkan pengalamannya dalam mengelola museum yang mengoleksi lukisan karya seniman yang terinspirasi dengan budaya Bali. Selain lukisan, Neka juga mengoleksi keris sebagai pusaka bangsa yang diakui UNESCO. (tap)

Memaknai Museum di Hatiku

Sumber : Denpost, Rabu, 6 Januari 2010

”Museum di Hatiku” merupakan tag line Visit Museum Year/VMY (Tahun Kunjungan Museum 2010 yang diluncurkan oleh Menteri Kebudayaan dan Pariwisata (Menbudpar) Jero Wacik belum lama ini di kantor Budpar, Jakarta. Selain itu diluncurkan jingle dan logo VMY.

Menurut ketua Himpunan Museum Bali (Himusba) Nyoman Gunarsa yang hadir dalam peluncuran tersebut,tag line VMY yang memberikan maksud dan pesan secara eksternal kepada masyarakat bahwa museum berkeinginan mendapat tempat di hati masyarakat dalam rangka menumbuhkan rasa terhadap museum.

Seperti diketahui, museum yang dalam bahasa latin disebut musea (tempat para dewa bersemayam) merupakan tempat untuk melestarikan benda-benda warisan budaya alias harta karun (treasure). Museum juga sangat strategis untuk membangkitkan kembali harga diri dan jati diri bangsa dalam berdemokrasi.

Sedangkan logo VMY yang melambangkan bentuk hati yang berwarna-warni merupakan representasi dunia baru menyenangkan yang akan di dapat masyarakat di dalam museum. Selain itu mengarahkan persepsi masyarakat pada eksistensi museum untuk senantiasa dekat di hati. “logo ini memberikan gambaran betapa hebatnya dinamika kehidupan baru museum yang akan datang,” tegas sang maestro.

Gunarsa menambahkan, kesadaran akan harga diri, mencintai seni-budaya serta ciptaan bangsa sendiri merupakan kewajiban berbangsa yang harus ditegakkan dan dibudayakan. Karenanya, museum sebagai salah satu kekayaan seni budaya bangsa harus ditempatkan pada posisi yang sangat starategis dan mulai dalam pembinaan karakter bangsa. “Untuk itu mari kita buktikan untuk mencintai hasil-hasil karya seni budaya bangsa sendiri dengan berkunjung ke museum-museum yang tersebar di seluruh nusantara. Bangsa yang cerdas dan berbudaya adalah bangsa yang mencintai hasil karya seni budaya,”tambah pemiliki Museum Seni Klasik Nyoman Gunarsa, Klungkung ini.

Dengan pencanangan 2010 sebagai tahun Kunjungan Museum, Gunarsa mengajak masyarakat luas untuk meningkatkan peran museum dengan penampilan yang lebih maju dan pengaplikasikan penemuan-penemuan teknologi mutakhir dalam menumbuhkan peran museum yang lebih segar, edukatif, apresiatif serta meningkatkan kepariwisataan nasional.

Dalam acara Tahun Kunjungan Museum 2010 ini, direktorat museum pusat menunjuk 7 provinsi yakni DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Yogyakarta dan Medan sebagai tuan rumah sekaligus penyelenggara. Sedangkan di Bali, Himusba dipercaya mengisi acara spektakuler tersebut dengan berbagai acara seni budaya di masing-masing museum. Khusus pembukaan dan puncak acaranya dijadwalkan berlangsung di Museum Seni Lukis Klasik Bali Nyoman Gunarsa di Klungkung pada 10 Juni mendatang. Acara ini akan diiringi di antaranya Festival Barong Bali, kolaborasi seni Cunda Manik, launching buku “Rwa Bhineda” oleh Prof. Dr. Ron Jenkins serta pameran besar Sanggar Dewata Indonesia. (tap)

10 Museum Terima Anugerah Pers K. Nadha Nugraha

VMY 2010, Jadikan Kebangkitan Museum

Sumber : Bali Post, Rabu, 6 Januari 2010

Visit Museum Year (VMY) 2010 yang dicanangkan pemerintah hanya bertujuan untuk mendatangkan wisatawan sebanyak-banyaknya ke museum. Padahal, seharusnya VMY dijadikan kebangkitan museum dalam melestarikan benda-benda yang mempunyai nilai budaya tinggi. Demikian penegasan Direktur Utama PT Bali Post Satria Naradha, saat menganugerahakan Anugerah Pers K. Nadha Nugraha yang berlangsung di Museum Nyoman Gunarsa, selasa (5/1) kemarin.

Kata Satria, benda-benda yang mempunyai nilai budaya adiluhung itu juga jangan hanya ada di museum, tetapi tetap menjadi sikap keseharian masyarakat Bali. Seperti benda-benda yang tersimpan di Museum Subak di Tabanan. Sejumlah alat yang pernah digunakan petani di Bali sudah jarang ditemui. Demikian pula benda yang ada di Museum Yadnya. Jangan sampai terjadi sarana upacara itu lengkap ada di museum, tetapi masyarakat Bali sudah tak melakukan yadnya. Sebab, kejayaan sebuah bangsa akan dipengaruhi sejauh mana masyarakatnya melaksanakan nilai-nilai yang telah ditanamkan leluhur dalam kehidupan sehari-hari.

Ketua Himpunan Museum Bali (Himusba), Nyoman Gunarsa dalam sambutannya menyatakan bangga karena museum sudah menjadi perhatian. Terbukti dengan diberikannya Anugerah Pers K. Nadha Nugraha kepada museum di Bali. “Ini hari yang membahagiakan bagi museum. Selain penganugerahan Pers K. Nadha Nugraha tahun ini oleh Menbudpar juga dicanangkan Visit Museum Year 2010,” ujar Gunarsa.

Visit Museum Year yang diluncurkan pemerintah pusat tentu diharapkan dapat meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap museum. Karena museum adalah harta karun yang tak ternilai harganya.

Selain Gunarsa, Putu Supadma Rudana juga memberikan apresiasi dengan diluncurkannya Visit Museum Year2010. Selain itu, ia yang Ketua IV Asosiasi Museum Indonesia (AMI) juga menyatakan salut dan bangga atas sinergisitas yang dibangun kelompok Media Bali Post dalam mengembangkan seni budaya sebagai jiwa bangsa.

10 Museum

Anugerah Pers tahun 2010 ini diberikan kepada 10 Museum di Bali. Yakni; Museum Bali, Museum Puri Lukisan Ubud, Museum Neka, Museum Seni Lukisan Klasik Nyoman Gunarsa, Museum Rudana, Museum Sidik Jari Denpasar, Museum Subak di Tabanan, Museum Purbakala di Gilimanuk, Museum Gedong Kirtya di Buleleng dan Museum Yadnya di Badung. (bal)

Menuju Visi Sempurna (Seni Budaya Sebagai Jiwa Bangsa)

Melalui Museum, beserta koleksi adiluhungnya, kita dapat memperlajari keagungan masa silam seraya menggagas kemungkinan masa depan tanpa lalai atau abai pada upaya menyikapi dan memaknai kekinian secara lebih kreatif. Saya yakin, melalui Tahun Kunjungan Museum, secara pasti, akhirnya Indonesia akan menjadi the heart of Asia and heart of the world. (Majalah Musea, 2009)

Saya ingin Indonesia secara budaya bisa dihargai, lalu membuat jarungan The Biggest Fine Art Network. (ESQUIRE, Januari 2008)

image005Kedua kalimat di atas merupakan kutipan pemikiran dari Putu Supadma Rudana dalam buku terkininya, ‘Menuju Visi Sempurna, Seni Budaya Sebagai Jiwa Bangsa’.

Pada buku yang diterbitkan di awal tahun 2009 ini, terangkum gagasan serta pandangan Putu Rudana yang pernah tertuang dalam wawancara di beberapa media lokal, nasional maupun internasional, serta mengulas berbagai sisi kehidupan kesenian dan kebudayaan kita. Dimulai dari karya lukis, tantangan kepariwisataan Indonesia, program Tahun Kunjungan Museum, pandangannya mengenai generasi muda serta masa depan bangsa, hingga berbagai kegiatan kebudayaan yang digagasnya dengan semangat sinergi antara seni budaya dengan beragam bidang kehidupan, semisal otomotif, olahraga, ekonomi, politik dan sebagainya; yang kesemuanya bermuara pada upaya Pembangunan Karakter dan Pekerti Bangsa (Nation and Character Building).

Silakan simak segera gagasan, pandangan serta pemikiran Putu Supadma Rudana secara menyeluruh dalam buku ini.

MENUJU VISI SEMPURNA (Seni Budaya Sebagai Jiwa Bangsa, Sinergi dengan Berbagai Media)
Pengganti biaya cetak: Rp 100.000
Pemesanan Hubungi:
Yayasan Seni Rudana
Alamat:
Jalan Cok Rai Pudak No 44, Peliatan, Ubud, Bali, Indonesia.
Email:
[email protected]
Nomor Rekening:
Bank Bumiputera Cabang Ubud
1 000 1 00000 57891

Testimonial Buku
“Menuju Visi Sempurna” – Putu Supadma Rudana
Oleh Irman Gusman – Ketua DPD RI

image006Saya menyambut baik penerbitan buku “Menuju Visi Sempurna” yang ditulis Putu Supadma Rudana ini. Butir-butir gagasan yang tertuang di dalam bukunya sangat berharga bagi pengembangan seni dan budaya Indonesia, khususnya Bali di masa mendatang.

Derasnya arus globalisasi tidak membuat Putu menjadi tokoh muda yang melupakan akar budayanya, namun justru dipandang sebagai tantangan sekaligus peluang. Ia menyadari betul ancaman perpecahan yang mungkin menimpa negara kita yang majemuk ini jika kita tidak bijak menyikapi perkembangan global.

Upaya Putu untuk mempertahankan keutuhan NKRI, serta memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa diwujudkannya dalam bentuk buku yang mencakup gagasan-gagasan dan perjalanan Putu dalam usaha memajukan seni negeri ini.

Berbagai langkah yang telah, tengah dan akan ia lakukan; mulai dari sinergi seni dengan berbagai bidang, hingga kegiatan-kegiatan pemberdayaan generasi muda demi mendorong terciptanya sumber daya manusia yang unggul menuju masyarakat Indonesia yang kreatif dan produktif, sejalan dengan nafas perjuangan bangsa ini dalam membangun karakter dan pekerti bangsa (Nation and Character Building).

Banyak buku yang mengulas tentang upaya memajukan kebudayaan Indonesia. Namun, keunggulan utama buku ini terletak pada sosok Putu yang memiliki kontribusi signifikan tidak hanya dalam pengembangan seni dan budaya Bali, namun juga memberi arahan komprehensif yang dapat dijadikan panduan dalam memajukan kebudayaan nasional terutama seni lukis.

Buku ini menjadi relevan untuk dibaca karena penulisnya adalah orang yang tumbuh bersama, mengakar, turut membangun dan memberikan kontribusi pada perkembangan seni di Indonesia. Putu berperan bukan hanya sebagai promoter seni tapi pada saat tertentu ia mampu menjalani fungsi sebagai duta kebudayaan Bali bahkan Indonesia. Ia yakin Bali akan tetap dicintai dan didukung masyarakat dunia apapun yang terjadi. Dengan mendukung Bali masyarakat dunia pun tentu mendukung Indonesia.

Tentunya kepedulian Putu terhadap seni dan budaya Indonesia serta usahanya dalam meningkatkan sumber daya manusia Indonesia melalui pengembangan minat dan bakat generasi muda dapat menginspirasi berbagai pihak terutama para generasi muda untuk mencintai seni dan budaya Indonesia tanpa membatasi minat dan bakat mereka.

Dalam konteks itu, buku ini menjadi rujukan yang sangat baik untuk “Menuju Visi Sempurna” tentang bagaimana membangun daerah dan memajukan negeri terutama dalam bidang kesenian. Karena seni rupa bukan hanya komoditas yang diperdagangkan suatu negara, tapi seni rupa juga merupakan sarana kita untuk belajar tentang sejarah perjalanan suatu negara. Selain itu, seni rupa juga memiliki potensi sebagai media untuk menciptakan perdamaian dan kesatuan di dunia ini.

Semoga apa yang ditulis oleh Putu Supadma Rudana ini dapat dijadikan penyemangat bagi kita semua untuk terus maju menjawab tantangan globalisasi tanpa melupakan akar budaya tempat kita berasal. Selamat membaca!